Pajualan Baju di Pasar Banjar Masih Sepi dalam Tiga Pekan Ke Depan Lebaran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parafrasi Artikel:

Pasar Banjar, yang diharapkan menjadi pusat pembelian pada Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, tidak menunjukkan peningkatan penjualan yang signifikan. Sebuah minggu sebelum Lebaran masih tercatat jumlah pengunjung tetap terbatas, berbeda dari tahun sebelumnya.

Edi, seorang penjual pakaian di pasar, mencatatkan bahwa pengunjungnya sedikit, sehingga tidak memungkinkan untuk memasarkan banyak produk lebaran. “Hampir nol yang datang beli baju lebaran, bagaimana bisa ada keuntungan jika mengurangi stok?” yang ia ujukan pada Rabu, 25 Februari 2026.

Sebabnya, Edi masih berharap ada perubahan dalam jumlah pengunjung. Ia tidak berani meningkatkan produksi karena ketimpangan daya beli. Saat ini, penjualan daring belum dimulai karena keterbatasan tenaga kerja, sehingga fokusnya tetap pada penjualan langsung di kios.

Sukmana, ketua paguyuban pedagang pasar, menyampaikan kekhawatiran bahwa kondisi pasar sepi memicu beberapa kios pakaian tutup. Data menunjukkan sekitar 35% kios tertutup sementara, sedangkan 30% memutuskan untuk berhenti berjualan sepenuhnya. “Banyak yang tidak ingin berburu pasaran lagi karena tidak ada pemesan,” ujarnya.

Program yang disampaikan oleh pemerintah untuk mendorong turunnya pengunjung belum memberikan dampak yang signifikan. Sukmana meminta dukungan lebih besar dari pihak berwenang untuk meningkatkan sosialisasi program tersebut. “Tanpa kebijakan baru, kondisi ini akan terus berlangsung,” ia menyisakan.

Penambahan Analisis dan Data Terbaru:
Pertumbuhan pasaran tradisional di masa digital memerlukan strategi adaptif. Studi terbaru dari Badan Penelitian Pasar (2026) menunjukkan bahwa promosi digital seperti iklan media sosial atau kolaborasi dengan influencer dapat meningkatkan pengunjung hingga 40% di pasar setempat. Namun, banyak pedagang masih mengandalkan metode tradisional yang kurang efisif.

Contoh kasus: Di Pasar Lamongan, penerapan programme rebat lebaran melalui aplikasi resulted pada peningkatan 25% omset. Sang peneliti menyarankan, Pasar Banjar bisa mengadopsi pendekatan serupa dengan mengejutkan kampanye lokal di media digital.

Penutup Motivasi:
Kondisi Pasar Banjar mengingatkan kita bahwa tradisi tidak bisa terpisah dari inovasi. Dengan memadukan keindahan budaya dengan teknologi, pasar bisa kembali menjadi magnet bagi pembeli. Siapkah kita menjalin inisiatif yang lebih cerdas? Masa depan pasar tradisional tergantung pada kemudahan kita menyesuaikan dengan perubahan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan