RSUD Dewi Sartika Dikenal sebagai Monumen Rencana Gagal, Aktivis NU Soroti Melawan Proyek Kesehatan di Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

RSUD Dewi Sartika di Tasikmalaya menjadi pusat kontroversi karena manajemennya. Myftah Farid, Wakil Ketua Generasi Muda NU Kotamadya, mengkritik keras terhadap operasional rumah sakit yang dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Kota. Ia menganggap peralatan medis seperti ventilator yang tidak digunakan selama lama sebagai tanda tidak efisien dalam pengelolaan anggaran publik.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Asep Hendra Hendriana, mengakui masalah ventilator yang tidak beroperasi karena umurnya. Myftah membidangkannya sebagai pengakuan terbuka atas ketidakpastian manajerial. “Pembangunan fasilitas tanpa pengurusan operasional sejalan akan merusak nilai aset publik,” kata ia, mengklaim ini menjadi bukti pelanggaran keandalan layanan kesehatan.

Ia juga menilai fokus pada pembangunan fisik tanpa memperhatikan kebutuhan riset seperti PPK (Pelayanan Pelayanan Kesehatan) BPJS. “Gedungnya impon, tapi tanpa pelayanan mendasar, rumah sakit ini hanya menjadi simbol kekacauan,” menegaskannya. Kritiknya lebih lanjut terhadap DPRD Kota yang hanya mengikuti isu di media tanpa solusi konkret.

Beberapa anggota DPRD menyebut RSUD Dewi Sartika sebagai “rumah sakit dengan kapasitas kecil”. Myftah mengkritik bahwa sindiran tidak akan mendatangkan tenaga medis atau memperbaiki infrastruktur. “DPRD harus memastikan ketuntasan eksekutif, bukan hanya melantik klaim,” tegasnya.

Bagi masyarakat, kondisi rumah sakit ini mengandalkan kepercayaan terhadap pemerintah. Myftah meminta aparatur berkelanjutan memprioritaskan pemeliharaan dan kualitas layanan, bukan hanya fokus pada proyek fisik. Keberhasilan RSUD Dewi Sartika, menurutnya, tergantung pada kelembutan manajerial dalam memadukan investasi dengan kebutuhan sebenarnya masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan