MBG Mandek Tiga Pekan di SD Condong, Kota Tasikmalaya, Kata PIC Dapur SPPG: karena Pergantian KSPPG

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sebuah sekolah dasar di Tasikmalaya secara mendadak dibatalkan. Informasi ini mulai terungkap sejak hampir tiga minggu lalu. Siswa SD Condong di Kecamatan Cibeureum tidak lagi menerima distribusi makanan bergizi yang sebelumnya dilakukan secara rutin. Ajakannya muncul dari seorang orang tua yang membantang menyebutkan nama. Dengan nada bingung dan tidak nyaman, ia bertanya apakah program ini akan terus berlangsung.

Orang tua tersebut menyatakan, “Di waktu ini, aku masih bingung: ‘SD ini masih aktif mengikuti libur atau tidak, karena aku tidak dapat memahami?'” kata ia pada Jumat (20/2/2026) sore. Ia mencoba menyelidik langsung ke pihak sekolah, tetapi jawaban yang diberikan hanya menghalangi pemahaman. “Guru di sekolah tidak memberikan penjelasan jelas. Bahkan mereka bahas hal lain, tidak berhubung dengan MBG,” menjelaskannya.

Keluhan tersebut menyebar di kalangan orang tua siswa. Mereka berdiskusi mengapa sekolah lain tetap menerima MBG meski libur, sementara sekolah mereka menghentikan program.

Respons dari PIC Dapur SPPG Setianegara 1, Poppy Alawiyah, menyebut masalah utamanya adalah penggantian Kepala SPPG (KSPPG) yang ditunjuk Badan Gizi Nasional. “Awalnya Kepala SPPG kami, Pak Deden, resign karena tidak ikut PPPK. Maka, kami harus tunggu pengangkatan penggantinya dari Badan Gizi Nasional. Kami tidak bisa menentukan sendiri,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Operasional dapur baru mulai berjalan pada 26–31 Januari setelah dana operasional baru turun pada 20 Januari. Namun, KSPPG pengganti yang bernama Ega mengelola lebih dari satu dapur. “Bagi Korcam kami, tidak diperbolehkan menjalankan operasi karena tidak ada kepala dapur tetap,” menjelaskan Poppy. Akhirnya, distribusi MBG dibatalkan sejak 2 Februari 2026.

KSPPG pengganti berikutnya, Bahari, berasal dari Medan. Ia baru bisa tiba di Tasikmalaya pada 12 Februari karena proses administrasi.

Program ini memandang keberlanjutan melalui komunikasi yang jelas dan persiapan terhadap perubahan administratif. Meski ada kesulitan, pentingnya menjaga kinerja program bagi kesehatan peserta tetap menjadi prioritas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan