Perjanjian Dagang Diteken Mendorong Penarikan Impor LPG dari AS Meningkat hingga 70%

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pertamina, menyatakan bahwa impor LPG dari Amerika Serikat (AS) bisa meningkat hingga 70%, dari sebelumnya 57%. Hal ini sesuai kesepakatan dagang yang memukul Indonesia memimpi minyak dan gas (migas) AS sebesar US$15 miliar.

Pertamina tidak hanya mengandalkan impor dari Asia Tenggara, Timur Tengah, atau Afrika. Dengan mengeksploitasi pasar AS, perusahaan ini dapat memperluas jangkauan diversifikasi sumber energi. Simon menjelaskan bahwa pengentasan impor LPG dari AS juga bisa diterapkan pada minyak mentah dan produk energi lain.

Sebagai respon terhadap penurunan produksi migas nasional, Pertamina terus berusaha meningkatkan kapasitas produksi bersama SKK Migas dan kontraktornya. Berbagai nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani dengan perusahaan AS seperti ExxonMobil, Chevron, dan Halliburton. Proses impor tetap menggunakan sistem tender dan bidding, tanpa penunjuk langsung perusahaan AS.

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, memperjelas bahwa US$15 miliar ini mencakup BBM, LPG, dan minyak mentah. Penjualan ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang recipsipal antara Presiden Prabowo dan Trump, yang dirancang untuk mengegelar neraca perdagangan.

Pertamina tetap tetap mengatur impor melalui mekanisme terbuka, memastikan proses kompetitif. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan harga kompetitif sambil menjaga kestabilanEnergi.

Perubahan strategi impor LPG mengkristalkan usaha Pertamina untuk menyesuaikan dengan dinamika pasar global. Dengan mengeksploitasi potensi AS, perusahaan ini tidak hanya mengejar harga terbaik tetapi juga memperkuat ketahanan Energi nasional. Fokus pada diversifikasi menjadi kunci agar Indonesia tetap bisa bersaing di pasar energi internasional.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan