Hasil Revitalisasi SDN Margajaya Salopa Tasikmalaya berhasil, pihak sekolah menyatakan semua pihak sudah sesuai.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Program revitalisasi sekolah di SDN Margajaya, Kelurahan Karyawangi, Kecamatan Salopa, Tasikmalaya, yang dianggaran Rp 922,318,002, tetapi hasil pembangunannya dianggap tidak memuaskan. Beberapa tokoh masyarakat mengkritik bahwa ruang kelas, perpustakaan, fasilitas WC, serta ruang guru tetap terlihat biasa dan tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Mereka bahkan membandingkan situasi ini dengan SDN Wahanamekar di Desa Setiawangi, yang memadukan hasil pembangunan yang lebih baik meski anggarannya lebih kecil.

Agus Rizaludin, tokoh masyarakat Desa Karyawangi, menyatakan kekhawatiran karena kualitas pengembangan tidak sesuai ekspektasi. “Kami melihat secara langsung bangunan revitalisasi SDN Margajaya tidak maksimal, meski anggarannya Rp 922 juta,” kata Agus. Ia menilai rehab ruang guru, yang awalnya tidak termasuk dalam program revitalisasi, menjadi tanda tanya bagi masyarakat. “Kenapa sekolah membongkar atap dan mengganti dengan baja ringan? Apakah ini strategi untuk mengejar dana?”

Agus juga menjelaskan bahwa anggaran perbaikan ruang guru berasal dari hasil penjualan genteng belajar yang direhab. “Namun, mengapa tidak menunggu anggaran berikutnya? Mengapa harus memaksakan?” Pertanyaan ini menyoroti kekurangan pencarian dan penyelenggaraan yang mematuhi rencana.

Beberapa tokoh merendahkan keputusan pemerintah untuk memanfaatkan dana yang besar dengan cara yang tidak optimal. Mereka berharap pengembangan sekolah tidak hanya berisi pembangunan fisik, tetapi juga kualitas pembelajaran dan pengelolaan dana.

Pembangunan ini menjadi ujian bagi pihak sekolah dan pemerintah. Apakah anggaran besar akan menghasilkan nilai yang sebanding? Atau akan menjadi contoh yang tidak memuaskan bagi masyarakat?

Penerapan revitalisasi sekolah harus dipertimbangkan dengan teliti. Dana yang besar tidak menjamin hasilnya jika tidak diatur dengan Strategi yang tepat. Masyarakat juga memiliki peran dalam memantau proses pengembangan agar transparan dan efektif.

Program revitalisasi bukan hanya tentang membangun bangunan, tetapi tentang meningkatkan kualitas pendidikan. Jika anggaran digunakan dengan bijak, bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan siswa. Namun, jika tidak, bisa menjadi pengeluaran yang tidak berfaktor.

Pemerintah harus menyisakan kritik masyarakat dalam proses pengembangan. Transparansi dan partisipasi warga menjadi kunci agar revitalisasi tidak menjadi soal dugaan.

Dana besar bisa menjadi solusi, tetapi hanya jika diawali dengan pemikiran yang benar. Pendidikan adalah investasi yang harus dikayakkan dengan bijak.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan