Harga Sembako Meroket di Tasikmalaya, Desak Operasi Pasar: Jangan Cuma Janji

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Thecuy.com — Saat bulan Ramadan yang merah tiba, grafik harga kebutuhan pokok di kota ini melonjak tanpa keterangan jelas. Minyak goreng, beras, telur, cabai, bawang merah, serta tepung kompak mengalami naik pesat, memicu ketegangan di dapur warga sebelum kompor dinyalakan.

Pantauan di Pasar Cikurubuk menunjukkan hampir semua komoditas strategis bergerak pada arah yang sama: kenaikan harga. Informasi iniissentik Kepala UPTD Pasar Resik 1, Deri Herlisana.

Secara spesifik, harga cabai merah keriting berada di kisaran Rp45.000–Rp46.000 per kilogram. Cabai merah besar dipasang Rp50.000–Rp55.000 per kilogram, sementara cabai rawit merah (domba) memanjakan Rp85.000–Rp90.000 per kilogram.

Daging ayam broiler tercatat Rp45.000 per kilogram. Daging sapi lokal paha depan dan belakang mencapai Rp135.000–Rp140.000 per kilogram, dengan has luar yang lebih mahal sebesar Rp150.000 per kilogram. Udang basah ukuran sedang dijual Rp95.000–Rp100.000 per kilogram, sedangkan tomat sayur tetap stabing di Rp10.000 per kilogram.

Kenaikan ini tidak hanya dirasakan oleh ibu rumah tangga, tetapi juga pedagang kecil dan buruh harian yang mengandalkan penghasilan pas-pasan untuk membeli kebutuhan harian. Selisih Rp2.000–Rp3.000 per komoditas terasa seperti perbedaan antara lauk dan sekadar nasi.

Satu pedagang, Ica, mengungkapkan kondisi ini dengan nada mager. “Beras naik dari Rp13.000 jadi Rp13.500. Telur sudah nyampe Rp32.000 per kilo. Minyak juga meningkat,” ujarnya Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, kenaikan PPN sekaligus memengaruhi harga produk lain. “Terus karena ada isu PPN naik, produk lain juga ikut naik. Kayak saya, rokok juga naik,” tambahkanya.

Di tengah situasi ini, warga mencoba mengadaptasi dengan berbagai cara: memasak lebih hemat, mengganti bahan dengan alternatif lebih murah, hingga mengurangi porsi belanja.

Pedagang makanan tergoda situasi yang sulit—harga bahan baku naik, sementara daya beli pembeli belum tentu segenapnya.

Ramadan yang biasanya sinarkan permintaan, kini menjadi alarm bagi stabilitas harga.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan