Transfer Rp 200 T ke Bank Belum Mampu Dongkrak Kredit

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Menekan Rp200 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke BUMN tahun lalu bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kredit di sektor usaha. Namun, hasil ini tidak seharusnya signifikan meningkatkan penyaluran kredit ke UMKM dan perusahaan real.

Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), mengungkapkan pertumbuhan kredit masih di bawah 10%, sebesar 7,9% hingga 2025. Meskipun perbankan dikaya likuiditas melalui SAL, dampak terhadap peningkatan kredit belum terlihat. “Kebijakan ini belum mengarahkan peningkatan kredit yang signifikan. Pertanyaan adalah apakah ini masalah waktu atau faktor lain yang mempengaruhi ekonomi?” kata Mari dalam diskusi OJK Institute virtual.

Pertumbuhan kredit masih tertahan karena level suku bunga kredit yang masih tinggi. Bank Indonesia (BI) menurunkan BI Rate dari 6% ke 4,75% sepanjang 2025, tetapi bank tidak langsung menurunkan suku bunga kredit. Mari menegaskan, masalah ini mungkin terkait dengan permintaan kredit yang belum semakin kuat. “Apakah masalah supply atau demand? Faktor struktural ekonomi mungkin menjadi penghalang,” ujarnya.

Defisit neraca pembayaran dan lemahnya daya beli juga mengganggu kredit. Meski ekspor minus impor positif, keluar modal luar negeri menyebarkan tekanan pada nilai rupiah. “Meski BI mengurangi BI Rate, pelaku usaha masih terpinggirkan. Kredit bersifat tekanan karena struktur ekonomi negara belum sepenuhnya mendukung,” penjelasnya.

BRI mengungkapkan perlambatan kredit bukan sekadar karena likuiditas, tetapi karena keterbatasan di sektor manufaktur, pertanian, dan perdagangan. Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, menekankan, “Pertumbuhan ekonomi dan kebijakan moneter saat ini belum memberikan respon positif. Pelaku usaha terasa merata, mengadopsi pendekatan menunggu, bukan merekayasa.”

Kondisi ini mengindikasikan kebutuhan bukan hanya likuiditas tambahan, tetapi juga keyakinan pelaku usaha. “Fasilitas kredit tersedia, tetapi pelaku usaha tak mempercepat penggunaan. Tantangannya pada keyakinan masa depan, bukan hanya dana,” takuti Hery.

Pertumbuhan kredit di Indonesia menciptakan tantangan multidimensi. Kebijakan moneter harus disertai reformasi struktural di sektor ekonomi. Tanpa penyesuaian, kredit tetap terbatas meski likuiditas tersedia.

Peningkatan kredit tidak hanya membutuhkan dana, tetapi juga kebijakan yang lebih presisi dan keyakinan pelaku usaha. Langkah-langkah ini bisa menjadi kunci mengatasi kemiskinan dan mendorong revitalisasi ekonomi.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan