Siap-siap! Otak AI Nanti Tidak Bisa Di Bumi, Tapi Bisa Melayang di Langit

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Elon Musk berpendapat bahwa solusi terbaik untuk mengatasi keterbatasan sumber daya di Bumi adalah memindahkan pembangunan data AI ke luar angkasa. Kolaborasi antara SpaceX dan perusahaan kecerdasan buatan xAI dapat menjadi solusi tersebut. Namun, ia bukan satu-satunya yang merayakan ide ini.

Google, OpenAI, dan banyak perusahaan lain sedang mengembangkan pusat data di luar angkasa. Kebutuhan daya listrik dan air yang besar dari teknologi AI memaksa pencarian alternatif inovatif. Lokasi luar angkasa menawarkan energi surya yang lebih efisien, pengelolaan suhu otomatis, dan tidak membatasi ruang. Seperti yang diucapkan David Bader, profesor ilmu data, “solusi logis adalah memindahkan upaya ke ruang luar Bumi”.

Google berencana menguji pusat data orbit dengan dua satelit uji coba pada tahun depan. Panel surya di orbit dapat menghasilkan daya hingga delapan kali lebih besar dibandingkan di Bumi. Sam Altman, CEO OpenAI, mempertimbangkan membeli perusahaan roket Stoke Space untuk memasang pusat data di orbit. Start-up Starcloud juga telah meluncurkan server AI di angkasa menggunakan roket SpaceX.

Philipp Johnston, CEO Starcloud, memprediksi bahwa dalam 10 tahun ke depan, semua pusat data AI baru akan berada di orbit. Hal ini dapat mengatasi masalah penolakan yang semakin tinggi terhadap pembangunan data center di Bumi. Namun, tantangan teknis masih banyak. Deutsche Bank Research menilai bahwa keberhasilan membangun pusat data orbit lebih tergantung pada ketangguhan desain ketimbang batas fisika.

Biaya listrik untuk pembangunan data center cenderung meningkat. Analisis Bloomberg mencatat kenaikan biaya hingga 267% di lokasi dekat pusat data dibandingkan lima tahun lalu. Penggunaan air juga menjadi isu. Pusat data besar bisa menghabiskan hingga 5 juta galon air sehari, setara konsumsi air di kota dengan penduduk 10.000 hingga 50.000 orang.

Meskipun tantangan teknis dan regulasi politik, reksasa teknologi mempertimbangkan langkah ini. Mark Muro, peneliti Brookings Metro, menyebut Bumi menjadi lokasi rumit untuk pengembangan data center. Reaksi masyarakat sering mempersulit persetujuan untuk pembangunan.

Meskipun Musk memprediksi pusat data orbit akan lebih hemat biaya dalam dua hingga tiga tahun, ahli seperti Deutsche Bank memperkirakan butuh waktu hingga 2030. Namun, pengembangan ini berpotensi terjadi.

Pemindahan data center ke luar angkasa menjanjikan solusi untuk keterbatasan sumber daya Bumi. Energi terbarukan, efisiensi operasional, dan potensi tumbuhnya industri ruang menjadi alasan kuat. Meskipun masih ada tantangan, inovasi ini bisa mengubah arah pengembangan AI secara global.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan