Fenomena Vape Dipercaya Sebagai Alternatif Aman, Tetapi Risiko Terbukti
Jakarta – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap penyalahgunaan rokok elektrik, atau vape, yang semakin rerata di kalangan remaja. Data menunjukkan bahwa banyak remaja memandang vape sebagai solusi untuk berhenti merokok konvensional, padahal klaim tersebut tidak didukung penelitian ilmiah.
Penerangan ini diberikan oleh Komjen BNN Suyudi Ario Seto saat menyelenggarakan diskusi kelompok tentang pengawasan vape dan penanganan whippersnapp di Jakarta Timur, 18 Februari 2026. Suyudi menyoroti bahwa promosi vape sebagai alat berhenti merokok sering kali mengabaikan risiko sebenarnya. “Narrasi ini adalah ilusi yang belum terbukti efektif secara ilmiah,” kata ia.
Dataแสดงkan bahwa lebih dari 6,6 juta orang di Indonesia berumur 15 tahun ke atas mengkonsumsi vape. Angka ini naik 10 kali lipat dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021. Pendapatan remaja usia 15-19 tahun menjadi yang paling mencolok, dengan prevalensi yang terus meningkat.
Suyudi juga mengungkapkan bahwa cairan vape bukanlah produk yang aman. Bahan kimia seperti nikotin, propilen, glikol, dan zat pemberi rasa lainnya dapat merusak paru-paru. “Cairan ini adalah koktail kimia yang berisiko tinggi,” ujarnya. Selain itu, ada risiko penggunaan vape yang diisi ulang dengan narkotika seperti etomidate atau kanabinoid sintetis.
“Vape menjadi kamuflase untuk penyalahgunaan narkoba,” jelas Suyudi. “Para pengguna sering tidak sadar bahwa produk yang terlihat ramah lingkungan atau ‘wangi’ bisa mengandung zat berbahaya.” Laboratorium BNN menguji 341 sampel vape dan menemukan 11 yang mengandung kanabinoid sintetis, 1 dengan metamfetamin, dan 23 yang mengandung etomidate.
Risiko Terbuka dan Perlu Regulasi Ketat
Suyudi meminta pemerintah untuk menerapkan regulasi lebih ketat. Ia menyentuh bahwa negara seperti Indonesia tidak boleh menjadi tujuan impor produk vape yang dilarang di tempat lain. “Kita harus mencegah vape menjadi pintu masuk baru bagi konsumsi narkoba,” katanya.
Data Riset Terkini
Studi terbaru dari 2025 menunjukkan bahwa 40% pengguna vape di Indonesia berumur kurang dari 20 tahun. Riset ini mengungkapkan korelasi antara penggunaan vape dan peningkatan kasus gangguan pernapasan di remaja. Infografis menunjukkan bahwa cairan vape mengandung 20 kali lebih banyak zat beracun dibanding rokok konvensional.
Panggilan untuk Aksiyon
Fenomena vape tidak hanya mengancam kesehatan remaja, tetapi juga mengubah pola konsumsi narkoba. Pendapat bahwa vape adalah pilihan ‘sembunyi’ bagus harus diganti dengan kesadaran akan risiko sebenarnya. Semua pihak harus berkolaborasi untuk meluangkan investasi dalam edukasi dan regulasi yang efektif. Jika tidak diatasi, vape bisa menjadi ancangan baru bagi generasi muda untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.