Warga Israel memaksakan 15 keluarga Palestina di Tepi Barat untuk memutuskan diri dari rumah, sehingga mereka terpaksa meninggalkan tanah yang telah dimiliki. Laporan dari Al Jazeera mencatat, Rabu (18/2/2026), bahwa Kepala Dewan Desa al-Malih, Mahdi Draghmeh, menyatakan bahwa serangan pelaku Israel pada Selasa (17/2) memicu pengusiran langsung. Selama itu, tujuh keluarga tambahan dari komunitas Maita juga diusir setelah kekacauan serupa.
Pemukiman Israel tidak hanya mengusir warga, tetapi juga melakukan serangan fisik. Salah satu insiden melibatkan serangan terhadap pria di desa Nabi Samwil, barat Laut Yerusalem Timur. Pria tersebut ditambang dan dipasang luka parah, kemudian dibawa ke rumah sakit. Insiden ini terjadi seiring dengan peningkatan serangan militer Israel di wilayah Tepi Barat, termasuk Nablus, Al Khader, dan Salfit.
Pemerintah Israel terus memperkuat kekuasaannya di area yang diduduki. Mereka mempermudah pembelian tanah oleh pemukim dan membuka pendaftaran tanah Palestina sebagai tanah negara. Hal ini mengakui oleh para menteri luar negeri dari Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan negara lain dalam pernyataan bersama. Mereka merasa tindakan Israel merupakan escalasi berbahaya yang bertujuan untuk mempercepat pemukiman ilegal, merusak hak warga, dan memperkuat kontrol Israel.
Data resmi Palestina mengungkapkan bahwa lebih dari 1.114 warga Palestina tewas, sekitar 11.500 terluka, dan 22.000 ditangkap di Tepi Barat yang diduduki sejak perang di Gaza pada Oktober 2023. Operasi militer Israel mencakup pembunuhan, penangkapan, serta memperluasarea pemukiman, yang dianggapVon palestina sebagai upaya untuk memaksakan realitas baru.
Pemerintah Israel juga memperkuat kebijakan aneksasi di Tepi Barat. Mereka mengotori klaim Palestina untuk membuktikan kepemilikan tanah, sehingga beban pembuktian berubah. Warga Palestina merasa tindakan ini membuka jalur aneksasi resmi, yang akan menghancurkan harapan negara Palestina yang diingatkan dalam prosesi PBB.
Langkah Israel ini tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga memicu ketegangan di area yang sudah lama berkonflik. Para warga Palestina terus mengkhawatirkan masa depan tanah mereka. Mereka meminta dukungan internasional untuk mencegah pengusuran dan melindungi hak-hak dasar.
Penerangan ini membuka refleksi tentang ketidakadilan yang terus terjadi. Siapa saja yang melihat peristiwa ini harus mempertanyakan kedaulatan yang mengabaikan hak warga asli. Ada dompet yang bisa dikembangkan untuk mendukung warga Palestina, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan konkret. Setiap orang bisa memulai dari langkah kecil, seperti menyebarkan informasi atau menyarankan kebijakan yang lebih adil. Lebih dari itu, krisis ini menjadi pengingat bahwa kebebasan dan hak warga tidak boleh dipaksa. Waktunya untuk berteriak, baik secara individu maupun kolektif, sudah sangat panjang.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.