Proses Olahan Limbah Jerami dan Kotoran Ternak Meningkatkan Pendapatan Warga Nagari Sebesar 63%

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pengelolaan Limbah Berkelanjutan Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Masyarakat di Nagari Padang Toboh

Di Kecamatan Nagari Padang Toboh, pengelolaan limbah pertanian dan peternakan yang dulu hanya ditangani dengan cara membakar atau dibuang kini berubah menjadi sumber nilai. Jerami dan kotoran ternak, yang sebelumnya dianggap sampah, sekarang diubah menjadi kompos, bioetanol, serta produk seperti parfum ramah lingkungan bernama ARUWA. Inisiatif ini dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui program SI CADIAK (Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah), yang membutuhkan sekitar 894 ton jerami dan 864 ton kotoran ternak per tahun.

Program ini tidak hanya mengurangi emisi karbon sebesar 1.305 ton COâ‚‚e tiap tahun, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan masyarakat. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) turun hingga 80% dari 2022 hingga 2025, seiring penurunan praktik pembakaran jerami. Selain dampak lingkungan, ini juga mendorong ekonomi lokal. Pendapatan masyarakat meningkat 63%, dibenarkan oleh produksi beragam dari limbah yang dulu dianggap tidak berisi nilai.

Sebagai bagian dari upaya memenuhi kriteria PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan), Pertamina Patra Niaga memadukan inovasi teknologi dengan kolaborasi dengan warga. Roberth M. V. Dumatubun, Corporate Secretary perusahaan, mengungkapkan bahwa SI CADIAK adalah contoh praktik pengelolaan limbah yang inklusif. “Solusi ini bukan hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan secara holistik,” kata dia.

Warga juga merasakan manfaatnya langsung. Siti, seorang anggota UKASEMA, membagikan pengalamannya: “Dulu kami hanya mengerjakan tani, sekarang dengan SI CADIAK, kami bisa menjual produk dari limbah. Ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat penting bagi keluarga kami.”

Data ini mengindikasikan potensi besar dari model pengelolaan limbah berbasis komunitas. Studi mendeskripsi bahwa program serupa di daerah lain mengalami peningkatan produktivitas 40-50% dalam satu tahun. Selain itu, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif diarea pemberdaykan komunitas dengan energi bersih.

Prasasi tambahan dari warga menunjukkan transformasi social yang signifikan. Banyak keluarga yang sebelumnya hanya bergantung pada tani kini memiliki pendapatan stabil dari penjualan produk limbah. Ini tidak hanya mengurangi ketergantungan ekonomi, tetapi juga mendidik masyarakat tentang manfaat pengolahan limbah secara bertahap.

Kombinasi inovasi, kolaborasi, dan pendekatan berbasis komunitas membuat SI CADIAK menjadi model yang bisa dimimicking di berbagai daerah. Program ini masih dalam tahap awal, tetapi potensinya untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ekonomi lokal menjadi pesan utama.

Manfaat program ini bisa menjadi landasan bagi kebijakan berkelanjutan di sektor pertanian. Dengan adaptasi, konsep mengolah limbah menjadi sumber nilai bisa mengubah realita bagi banyak komunitas yang menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi.

Program SI CADIAK membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak perlu berdampak negatif pada kehidupan ekonomi. Dengan pendekatan yang padat manfaat, pengolahan limbah bisa jadi kunci untuk pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan