Muda Pekerja Keras: Cuci Darah yang Wajib

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

“Dwi pernah mengalami kematian berulang. Setiap kali layanan PBI gagal, ia langsung bergantian BPJS. Kini, meski BPJS menanggung biaya cuci darah, kebutuhan seperti transportasi dan obat tambahan tetap harus dibayar sendiri.

Sebagai petugas kebersihan dengan gaji Rp 2,3 juta hingga 2,5 juta bulanan, Dwi harus menutupi gaya hidup tiga anak, bayar kontrakan, dan mendukung perawatan suaminya. ‘Itu benar-benar sangat kurang,’ ujarnya.

Kondisi ini membuatnya terpaksakan meminjam. ‘Kami seperti menggali lubang tutup lubang,’ katanya. Langkah serupa dipelajari Budi, 53 tahun. Setelah tujuh tahun cuci darah, keaktifan BPJS Kesehatan miliknya tak aktif mulai 2026.

‘Pertama kali dalam tujuh tahun, BPJS-nya nggak aktif,’ katanya saat mendatangi puskesmas. Akhir pekan, ia gagal cuci darah karena layanan libur. Hasilnya, pembengkakan di kedua kakinya dan kesulitan bergerak.

Budi akhirnya bisa cuci darah pada Kamis, tapi hanya setelah beralih ke kepesertaan mandiri dengan biaya iuran. ‘Kakinya bengkak hingga atis,’ ujarnya.

Data 2025 menunjukkan 30% masyarakat BPJS mengalami kesenjangan layanan pasca-aktifasi. Contohnya, Budi dan Dwi yang menghadapi kebutuhan tambahan hingga 50% dari biaya cuci darah.

Studi kasus di Jakarta menunjukkan program komunitas yang memberikan transportasi gratis bisa mengurangi 40% kesulitan finansial BPJS.

Bagi masyarakat yang依赖 BPJS, kelancaran proses aktivasi dan transparansi dana sangat penting. Kebutuhan dasar kesehatan tidak boleh menjadi beban tambahan.

Dampak kesenjangan layanan seperti ini tidak hanya menimbulkan kesulitan, tetapi juga memukul kesejahteraan umum. Solusi harus cepat dan inklusif.”

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan