Jakarta – Energis dari berbagai universitas di Indonesia memenuhi dukungan atas langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadlia, yang juga presiden Dewan Energi Nasional (DEN), dalam mengembangkan teknologi nuklir di dalam negeri. Pengembangan ini dilihat sebagai strategi vital untuk meningkatkan keandalan energi nasional serta mendukung peta transisi ke sumber energi bersih.
Prof. Muhammad Bachtiar Nappu dari Universitas Hasanuddin (Unhas) menekankan bahwa PLTN modular berbentuk SMR (Small Modular Reactor) memerlukan pendekatan yang inovatif. “SMR adalah solusi energy security untuk masa depan, bukan PLTN biasa, tapi versi yang lebih kompak dan efisien,” kata dia, Senin (16/02/2026).
Teknologi SMR diyakini tepat bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan bisa dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan daerah. “Dibanding PLTN konvensional yang butuh minimal 1.000 MW, SMR bisa dimulai dari 50 MW, sehingga lebih fleksibel dalam pengentasan elektrikasi wilayah terpencil,” menjelaskan Bachtiar.
Andi Jumardi, pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, menilai nuklir sebagai sumber energi yang sangat ekonomis, terutama untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia. “Harganya relatif lebih terjangkau dibanding energi fosil,” kata dia.
Ary Bachtiar Krishna Putra dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) ITS menekankan keunggulan PLTN, seperti densitas energi tinggi dan emisi rendah. “PLTN menghasilkan listrik stabil dengan bahan bakar kecil dan tidak beremisi karbon dioksida,” ujarnya.
Bagaimana pun, tantangan utama bukan pada teknologi SMR, melainkan pada pemilihan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan industri. Ary menegaskan bahwa teknologi sekarang jauh lebih aman, dengan sistem otomatis dan kontrol ketat. “Risiko lingkungan terasa lebih rendah dibanding pembangkit fosil yang masih sangat mencemari,” tegasnya.
Meskipun begitu, ketertarikan publik terhadap nuklir masih saling. Bachtiar dan Andi mengungkapkan bahwa riset menunjukkan daya kompetensi masyarakat Indonesia dalam bidang ini. “Kita punya cadangan uranium di Kalimantan Barat dan teknologi yang modern,” kata Andi.
Penelitian baru menunjukkan bahwa SMR bisa mengurangi ketergantungan pada energi impor hingga 40% dalam dekade mendatang. Data dari institusi energi nasional mengungkapkan minat masyarakat meningkat, terutama di daerah terpencil yang belum terhubung jaringan listrik nasional.
Adopsi teknologi SMR membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pendamping energi bersih di Asia. Dengan pengembangan berkelanjutan,-country ini bisa mengoptimalkan sumber daya alam lokal sambil mengejar target pengurangan emisi karbon.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.