Pengakuan Spotify: AI yang Ambil Alih dalam Pengembangan Aplikasi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Spotify kembali dominasi perhatian masyarakat, kali ini bukan seputar melukis musik, melainkan strategi mereka dalam membangun platform. Beberapa minggu setelah meningkatkan biaya langganan di Amerika Serikat, perusahaan mengungkap bahwa tim pengembang terbaik mereka tidak lagi menulis kode sama sekali sejak Desember 2025 karena tugas ini kini dilakukan oleh kecerdasan buatan.

Pengakuan ini dibongkar oleh co-CEO Spotify Gustav Söderström dalam rapat keempat kehadiran tahunan. Menurutnya, kecerdasan buatan telah mempercepat pembangunan produk secara signifikan di dalam perusahaan, seperti diinformasikan oleh detikINET dari Techspot pada Senin (13/2/2026).

Spotify kini mengandalkan sistem internal bernama Honk untuk mendukung proses penulisan kode. Platform ini memungkinkan developer melakukan pengiriman kode secara langsung dari jarak jauh dengan bantuan kecerdasan buatan generatif berbasis Claude Code.

Contohnya, seorang developer bahkan bisa memperbaiki kerentanan atau menambahkan fitur baru hanya melalui aplikasi komunikasi di ponsel saat keliling menuju kantor. Sistem kecerdasan buatan akan menjalankan perintah tersebut, lalu versi terbaru aplikasi langsung dapat diterima di ponsel developer untuk kemudian digabungkan ke versi utama.

Menurut Söderström, proses seperti ini bisa selesai sebelum karyawan tiba di kantor. Ia menyatakan bahwa Honk mempercepat pengembangan “tremendously” dan menilai ini hanya fase awal pemanfaatan kecerdasan buatan di Spotify.

Spotify juga mengklaim sedang membangun dataset dalam skala besar yang terus berkembang setiap kali model mereka dilatih ulang. Dataset tersebut, seperti yang disampaikan Söderström, jarang ditemukan di perusahaan lain dengan ketelitian sebesar ini.

Pengumuman ini muncul di tengah respon publik terhadap kenaikan harga Spotify di AS dari USD 11,99 menjadi USD 12,99. Perusahaan menjelaskan peningkatan itu diperlukan untuk terus memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.

Namun, kombinasi peningkatan biaya, ekspansi fitur kecerdasan buatan, dan penilaian bahwa kecerdasan buatan sekarang menyelesaikan penulisan kode aplikasi bisa memicu ketegangan baru. Salah satunya adalah dampak jangka panjang terhadap pekerjaan programmer.

Isu ini juga sejalan dengan peringatan Mustafa Suleyman, kepala AI di Microsoft, yang menyebut kecerdasan buatan berpotensi menggantikan sebagian besar pekerjaan kantoran dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Bagaimana impian ini akan berjalan? Apakah kecerdasan buatan akan menjadi pendamping atau pengganti bagi manusia? Masa depan teknologi mungkin menawarkan hal-hal yang tidak terduga, waar akan diawali oleh inovasi dan diikuti oleh perubahan yang mendalam.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan