Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Naik Kereta untuk Lamaran Anak dan Anti-Aji Mumpung dalam Jabatan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Diky Candra, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, menunggu di pintu stasiun seperti penumpang biasa saat berangkat ke Surabaya. Ia menemani istri, Putri, dan putranya Diffa M Chandra untuk keperluan lamaran. Perjalanan diwujudkan tanpa bantuan atau rambutan besar, hanya dengan tiga orang.

“Saya, istri, Diffa, dan calon mantu,” jelasnya saat dikonsultasi. Keberangkatan tetap sederhana, sesuai pertanggungjawaban keluarga. Diky menjelaskan bahwa keluarga besar tidak ikut karena sudah berhubungan beberapa kali sebelumnya.

“Keseriusan tidak selalu dikaitkan dengan ukuran rambutan,” kata Diky. Ia menekankan bahwa menghormati dan serius bertemu keluarga calon mantu tidak tergantung pada jumlah orang yang memenuhi kehadiran.

Pelaku pemberdayaan ini juga mengajukan maaf kepada masyarakat Tasikmalaya karena tidak bisa menghadiri agendanya di hari libur. “Semoga segala keberlanjutan lancar. Maaf kami tidak bisa menghadiri agendanya di kota ini,” ujarnya.

Diky menyentuh kebiasaan “aji mumpung” yang sering muncul di pimpinan publik. Ia percaya gaya hidup pimpinan akan menjadi contoh bagi bawahannya. “Kalau pimpinan hidup sederhana dan siap berkorban, ibunya juga akan ikut,” tegasnya.

Meskipun ada aparatur sipil negara yang melayani secara pribadi, Diky menolak. “Bantuan hanya diberikan jika ada pengangkatan kekuasaan untuk kepentingan pribadi,” menjelaskannya. Pernikahan, mengapa ia, dianggap sebagai hal suci yang tidak boleh berdampak dengan dana tidak jelas asalnya.

Tren pernikahan sederhana di Tasikmalaya menunjukkan alternatif baru bagi masyarakat. Keputusan Diky mengedepankan kesederhanaan bukan hanya untuk kehadiran keluarga, tetapi juga sebagai upaya memicu gaya hidup pimpinan yang lebih berfokus pada nilai-nilai sosial.

Tren ini mengedepankan nilai integritas dan kejelasan. Diky Candra menjadi contoh bahwa pimpinan yang tidak terikat dengan gaya hidup mewah dapat menciptakan pengaruh positif. Keputusan ini mungkin menjadi bahan inspirasi bagi masyarakat untuk prioritas nilai-nilai yang lebih bermakna.

Diky Candra membuktikan bahwa kesederhanaan dalam pernikahan bisa menjadi simbol keterampilan pimpinan. Keputusan ini bukan hanya mengedepankan keuangan, tetapi juga menghargai hak atas keberhasilan keluarga dengan cara yang menghormati.

Kesederhanaan yang dipilih Diky Candra menjadi pesan yang kuat bagi masyarakat. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti integritas, kesederhanaan, dan keberanian bisa menjadi fondasi pimpinan yang diadaptasi dengan realitas masyarakat.

Diky Candra membuktikan bahwa pimpinan yang tidak terikat dengan gaya hidup mewah bisa menjadi contoh yang menginspirasi. Keputusan ini mungkin menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk memahami bahwa keberhasilan tidak selalu dipakai untuk menampung keinginan pribadi.

Kesederhanaan dalam pernikahan bisa jadi model baru bagi masyarakat. Diky Candra membuktikan bahwa nilai-nilai sakral seperti keinginan dan keberanian bisa survives dalam kehidupan modern.

Diky Candra membuktikan bahwa pimpinan yang tidak terikat dengan gaya hidup mewah bisa menjadi contoh yang menginspirasi. Keputusan ini bukan hanya mengedepankan keuangan, tetapi juga menghargai hak atas keberhasilan keluarga dengan cara yang menghormati.

Diky Candra membuktikan bahwa kesederhanaan dalam pernikahan bisa menjadi simbol keterampilan pimpinan. Keputusan ini mungkin menjadi bahan inspirasi bagi masyarakat untuk prioritas nilai-nilai yang lebih bermakna.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan