JAKARTA – Proses kematian mirip dengan proses kehidupan, melibatkan perubahan fisiologis yang berlangsung bertahap. Saat tubuh beralih dari kesehatan menuju akhir umat, fungsi organ berkurang secara bertahap, memicu berbagai gejala fisik. Perlu dicari penjelasan tentang fenomena ini, terutama dalam fase akhir yang disebut active dying phase.
Jame Hallenbeck, ahli perawatan paliatif dari Universitas Stanford, menjelaskan ketika seseorang mendekati kematian, fungsi tubuh berkurang dalam urutan spesifik. Penurunan ini mencakup berbagai indra tubuh, dengan beberapa elemen yang lebih cepat tersingkat dibanding yang lain.
Pertama, narasetara dan keinginan makan biasanya berkurang. Tubuh yang sangat melelahkan tidak lagi memerlukan nutrisi seperti biasanya, sedangkan pencernaan menjadi kurang efisien. Hal ini bukan tanda sakit, tapi reaksi normal tubuh mengetahui bahwa sumber energi internal sudah berkurang.
Kemampuan berbicara juga berkurang. Kata-kata menjadi lebih lambat, dan komunikasi bertelepon atau langsung terasa sulit. Banyak kasus dikenal dengan individu yang tergiur dari percakapan intensif, lalu terpinggirkan oleh kelelahan atau keadaan tidak sadar.
Penglihatan menjadi lebih terpinggirkan. Benda terdekat masih terlihat jelas, tetapi jarak jauh terasa kabur. Beberapa personil juga mengalami halusinasi visual, seperti melihat cahaya atau bentuk tidak terang. Kondisi ini bisa berlanjut hingga mata berubah menjadi sayu atau tertutup.
Kemampuan merasakan sentuhan menjadi terpinggirkan. Saat pasien masih sadar, mereka mungkin masih dapat merasakan nyeri atau suara. Namun, saat kehilangan respons, indra ini menjadi satu dari terakhir yang kehilangan.
Pendengaran mungkin bertahan hingga terkecil. Studi pada 2020 menggunakan EEG menunjukkan otak pasien hospice masih merespons suara, meskipun tidak sadar. Hal ini mengindikasikan fungsi otak tetap aktif hingga saat-saat terakhir, meski tidak bisa berinteraksi.
Perawatan paliatif bertujuan menurunkan rasa nyeri melalui obat. Fokusnya adalah memastikan kenyamanan fisik pasien, bukan memperpanjang hidup. Proses ini alami dan tidak bisa dihindari, tetapi dengan pemberian bantuan medis yang tepat, pengalaman akhir kehidupan bisa lebih nyaman.
Ketidaknyamanan yang dialami pasien tidak berarti kehabisan sempurna. Beberapa indra masih bisa berfungsi hingga terdekat. Keberadaan ini mengingatkan bahwa kematian bukanlah penuh kebraian, tapi perubahan yang perlu ditangani dengan empati.
Penerimaan proses ini penting bagi keluarga. Meskipun emosi susah, memahami tahap yang terjadi dapat membantu menyediakan dukungan yang tepat. Kematian bukanlah gagal, tapi bagian dari siklus hidup yang harus dihadapi dengan ketekunan dan kehadiran yang berarti.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.