Di Lembor Lapangan Padel Kota Tasikmalaya, Ada Bisik-bisik "Oknum" (Part 1)

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Padel merendahkan ke Tasikmalaya dengan energi yang menyenangkan, seperti tamu yang dipantau dengan ketertiban penuh. Ketinggian lapangannya terwujud dengan ke bersihan dan kemudahan. Meski begitu, masalah izin tetap menjadi titik yang membingungkan bagi banyak orang.

Proses pendahuluan untuk izin sangat sederhana: mengajukan, menunggu, dan keluar. Namun di lapangan, realitanya berterusan dari cerita yang berbeda. Lapangan padel yang sudah dibangun beroperasi dengan penuh, lampu menyala hingga jam sore. Meski begitu, hanya sebagian kecil yang berhasil mendapatkan izin lengkap.

Salah satu alasan untuk ini terletak pada konsep “oknum”. Ini tidak merujuk pada tidaknya izin resmi, tapi pada cara pejabat melayani dengan cara yang tidak tertulis. Sumber yang ditarik ber cerita dengan nada hati-hati, mengaku membangun lapangan padel bukan karena keinginan melawan aturan, tapi karena ada yang memperbolehkan secara lisan.

“Oknum” itu tidak pernah secara resmi memberikan izin. Namun, ia tidak juga mengatakan “tidak”. Pendekatan ini memungkinkan pengusaha memantau proses dengan semakin cepat. Logika yang digunakan sering kali terdengar realistis, sehingga banyak yang percaya.

Contohnya, pengusaha yang membangun lapangan padel merasa tidak perlu berdarah-darah dengan aturan yang rumit. Mereka percaya bahwa jika lapangan sudah berdiri dan beroperasi dengan baik, proses izin bisa dilakukan dengan lebih efisien. Kalimat seperti “maaf, kita mengikuti prosedur” atau “proses cepat, tidak ribet” sering menjadi kunci bagi mereka.

Demikian pula, pejabat yang menggunakan “oknum” juga memahami pola ini. Mereka tidak menghalangi, tapi mereka tidak memungkinkan juga. Pendekatan yang tidak tertulis ini sering kali menjadi solusi praktis dalam rangkaian prosedur pemerintahan yang rumit.

Keberadaan lapangan padel di Tasikmalaya menunjukkan bahwa bisnis ini mengancam minat masyarakat. Namun, keberlanjutan bisnis ini tergantung pada keseimbangan antara keberlanjutan aturan dan kehadiran kepemimpinan yang pandang keluar dari kadang tidak tertulis.

Pemilik lapangan padel di Tasikmalaya mengingat, keberlanjutan bisnis sering kali tergantung pada keseimbangan antara keberlanjutan aturan dan kehadiran kepemimpinan yang pandang keluar dari kadang tidak tertulis.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan