Tragedi Elektrik di Jember: Warga Tewas Sementara Bersih-bersih Setalah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Siti Nurfadila, seorang warga desa Kaliwining di Jember, menegakkan kematian pasca terpapar listrik berbahaya. Kematian ini terjadi saat seseorang mencoba melemahkan rumahnya setelah banjir yang menghantam area tersebut. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edi Budi Susilo, menginformasikan korban ini sudah diketahui meninggal dunia. Badan tersebut mengakui tubuh korban telah dikemas dengan sepenuhnya di rumah sakit pembantu di Rambipuji.

Phenomena banjir itu terjadi pada malam Kamis (12/2/2026), disebabkan oleh hujan deras yang mendaur di Jember selama beberapa jam. Kelembapan tinggi itu memicu kenaikan debit sungai hingga melepas permukiman warga. BPBD Jember menyebut jumlah keluarga (KK) yang terpapar banjir di Kecamatan Rambipuji mencapai 3.774, lebih besar dibandingkan kecamatan lain di jumlah tersebut.

Bantuan logistik telah dikirim ke lokasi terpapar banjir dengan prioritas pada Rambipuji. BPBD juga mendirikan dapur umum di empat desa di wilayah tersebut. Di sisi lain, warga di Kecamatan Bangsalsari dan Wuluhan juga mendapatkan dukungan. BPBD meminta masyarakat meningkatkan siaga terhadap ancaman bencana cuaca ekstrim, yang BMKG telah memperingatkan sejak 10-20 Februari 2026.

Data terkini menunjukkan Jember masih dalam risiko banjir sepanjang periode cuaca ekstrem ini. Metode pengendalian air yang lebih rapi, seperti penyesuaian infrastruktur permukiman, diperlukan. Studi kasus di daerah lain seperti Surabaya menunjukkan implementasi dapur umum dan sistem pendeteksian banjir dapat membatasi keruntuhan ekonomi.

Banyak masyarakat masih tidak siap menghadapi ancaman banjir meski peringatan BMKG. Ini mengakibatkan kerugian material dan emosional. Penyelesaian jangka panjang memerlukan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan lembaga penelitian. Ekstraksi data banjir yang akurat juga penting untuk prediksi dan penanganan dini.

Kita harus belajar dari tragedi ini. Siaga terhadap banjir bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga ketertarikan masyarakat. Setiap keluarga harus memiliki rencana evakuasi dan tahunan penanganan banjir. Meski cuaca ekstrim tidak bisa dihindari, resiliensi masyarakat bisa menjadi kunci mengurangi dampak bencana.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan