Aktifitas Beruntung di Pabrik FABA Nusakambangan, Napi: Proses Pencapaian Hukuman yang Mendadak

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Warga binaan permasyarakan yang berinisial CAN telah berpartisipasi dalam pengolahan limbah pembakaran batubara (FABA) di Nusakambangan, Jawa Tengah, sejak beberapa bulan lalu. Berumah 20 tahun, ia berani mengejar masa pidana di pabrik ini, yang didirikan sebagai program pembinaan bagi masyarakat. Menurut CAN, kegiatan di pabrik FABA membuat masa hukuman terasa cepat. Agustus 2026 menjadi tanggal yang diharapkan ia kembali ke kebebasan.

Dalam pabrik ini, CAN mengasah keterampilan dalam produksi material bangunan seperti paving block dan batako. Prosesnya melibatkan campuran FABA dengan semen sebelum ditanganikan. “Masa pidana nggak terasa berat karena kerja terus,” ujar CAN kepada media. Ia juga mendapat premi bulanan sebesar Rp 100 ribu minimal, yang bisa meningkat tergantung penjualan.

Pabrik FABA di Nusakambangan berkolaborasi dengan Kementerian Imigrasi, Permasyarakatan, dan PT PLN Persero. Bahan baku FABA berasal dari PLTU Adipala Cilacap, yang disediakan PLN, sedangkan lokasi dan tenaga kerja disediakan oleh Imapas. Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengakui kemampuan warga binaan dalam memproduksi produk premium seperti paving hexagonal, roaster, dan buis beton. “Ini menunjukkan etos kerja yang sangat disiplin dan kreatif,” katanya.

Program ini diharapkan bisa mendukung pembangunan rumah murah. Menteri Agus menguji harap kontribusi warga binaan dapat memenuhi target 3 juta rumah murah. Produk FABA bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan material berkualitas yang bisa dipakai di berbagai proyek pembangunan.

Data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan FABA dalam pembangunan bisa mengurangi biaya material hingga 30%. Studi kasus di Nusakambangan membuktikan potensi transformasi limbah menjadi aset. Infografis menunjukkan bahwa setiap 1 ton FABA dapat menghasilkan 500 kg material bangunan.

Bagi warga binaan, ini menjadi peluang untuk mengembangkan keterampilan dan memperoleh penghasilan. CAN berharap program ini terus berlangsung agar lebih banyak masyarakat bisa terlibat dalam upayasa lingkungan. Kejadian ini mengajak kita untuk melihat nilai dalam limbah serta manfaat kolaborasi sosial. Semakin banyak ini, semakin besar potensi pembangunan berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan