Wamensos Budi Ramah Masyarakat Borobudur Melalui Ekeng Gondok Anyaman

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menegaskan bahwa pelatihan perajinan dengan bahan eceng gondok di Borobudur, Jawa Tengah, bertujuan mengembangkan sumber penghasilan warga. Program ini dikemasikan untuk membantu masyarakat berkelanjutan dari kondisi tidak berpenghasilan ke kemandirian ekonomi.

Kementerian Sosial, Pemerintah Magelang, dan PT Out of Asia berkolaborasi untuk menciptakan peluang ini. Agus Jabo mengajak para peserta untuk belajar membuat anyaman seperti tali atau tempat sampah dari eceng gondok. “Ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tapi untuk memotong kebuntuan,” ujarnya saat meneliti pelatihan di Balai Ekonomi Desa Bumiharjo.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendukung inisiatif ini. Camat Borobudur Subiyanto berharap program ini menjadi solusi praktis untuk mengurangi kemiskinan. “Kami mengharapkan pelatihan ini menjadi peluncuran ekonomi warga, agar mereka tidak perlu bergantung pada ajuda seumur hidup,” katanya.

PT Out of Asia, yang mengelola produksi, mengungkapkan permintaan produk ekeng gondok sangat tinggi. Meski sebelumnya telah dikirim ke pasar internasional, perusahaan tetap siap mendukung pelatihan di Borobudur. “Kami fokus pada kualitas dan inovasi, agar produk local bisa bersaing di pasar global,” ujar Arung Lusika, Direktur Operasional PT Out of Asia.

Pelayanan ini bukan hanya terindah di Borobudur. Sebelumnya, pelatihan serupa sudah dilaksanakan di Kalisalak, Banyumas, dan Wonosari. Program ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pemberdayaan masyarakat melalui seni tradisional.

Beberapa peserta sudah menunjukkan kemajuan. Sebuah kelompok di Karanganyar berhasil membuat kaos otot dengan desain unik. Agus Jabo menerima dua kaos sebagai cinderamata, yang menjadi simbol kesuksesan. “Ini adalah langkah awal. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Borobudur bisa menjadi pusat ekspor anyaman lokal,” tegasnya.

Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan berusaha. Pelatihan berpeluang mengubah realitas ekonomi di daerah yang hingga dulu hanya mengandalkan pertanian. Dengan kerangka binaan dari pemerintah dan perusahaan, warga bisa mencoba mengejar ide inovatif dengan bahan lokal.

Pembangunan ekonomi lokal membutuhkan komitmen dari semua pihak. Dengan pelatihan ini, masyarakat Borobudur tidak hanya belajar membuat anyaman, tapi juga memahami nilai kerja sama. Ini adalah peluang untuk membangun masa depan yang lebih independen.

Berhasilnya program ini bisa menjadi contoh untuk daerah lain. Seperti yang disampaikan oleh Subiyanto, penanganan kemiskinan bukan hanya melalui bantuan, tapi melalui pemberdayaan. “Kita ingin rakyat bisa hidup dengan doa, bukan doa doa,” katanya.

Dengan semangat ini, Borobudur mungkin bukan cuma tempat wisata, tapi juga zona pemberdayaan. Meneruskan ini membutuhkan dedikasi warga, dukungan pemerintah, dan inovasi dari perusahaan. Semoga ini menjadi awal dari perjalanan ekonomi yang lebih baik bagi rakyat di sekitar Borobudur.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan