Megawati Bisa Tunaikan Umroh Usai dari Madinah, Indonesia

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI, berputar menuju perekaman Nabi Muhammad SAW di Madinah, Arab Saudi. Kehadirannya di lokasi spiritual ini bertujuan untuk menyampaikan doa kepada keluarga dan masyarakat Indonesia. Saat ini, Megawati sedang dalam perekaman di Jeddah, di mana ia akan melanjutkan ritual umrah ke Masjidil Haram Makkah pada 14 Februari mendatang.

Pemeran penuh Megawati mencakup putranya, M Prananda Prabowo, istri Nancy Prananda, serta Puan Maharani yang menjabat Ketua DPR. Kunjungan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga simbol dukungan politik. Megawati akan fokus pada ibadah dan doa, seperti yang telah dilakukan selama kemenangan umrah tahun sebelumnya bersama keluarga.

Konsul Jenderal RI Jeddah, Yusron B. Ambary, serta Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menjadi salah satu yang menyambut Megawati. Mereka membahas pentingnya Pancasila sebagai fondasi ideologi Indonesia di peta geopolitik dunia. Zuhairi mengungkapkan doa Megawati akan menguatkan nilai-nilai Pancasila, terutama dalam konteks gotong royong dan kebersamaan.

Ahmad Basarah, Ketua DPP PDI Perjuangan, juga menyampaikan pesan serupa. Ia menekankan bahwa Megawati akan meminta kebanggaan masyarakat Indonesia untuk tetap konsisten pada prinsip Pancasila. Hal ini dimandang sebagai solusi untuk menciptakan keyakinan bersama dalam mengembangkan bangsa.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rencana kerja diplomasi Megawati ke Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Di sana, ia menghadiri pameran Zayed Award 2026, bertemu dengan putra mahkota UEA, serta menerima gelar Doktor Honoris Causa. Setiap aktivitas tersebut menonjolkan peran Pancasila sebagai magnet ideologis di krisis geopolitik terkini.

Megawati dan keluarga akan menyelesaikan umrah di Makkah sebelum kembali ke Indonesia. Istri presiden, Ibu Fatmawati, serta keluarga dekatnya akan menjadi target doa selama pelaksanaan ini. Zuhairi mengingatkan bahwa kehadiran Megawati di perekaman Nabi bukan hanya untuk keutuhan spiritual, tetapi juga untuk menguatkan identitas Indonesia di luar negeri.

Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas internasional ini mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan bagaimana ideologi negara dapat menjadi jembatan dalam menghadapi tantangan global. Keberagaman dan persatuan, yang merupakan inti Pancasila, mungkin menjadi solusi untuk menciptakan kerja sama yang bermakna dan berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan