Saksi mengungkap bahwa Ammar Zoni dan Antar Sabu pernah diminta oleh pihak terkait untuk ditahan di tahanan lain.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jaya, yang pernah menjadi narapidana dalam kasus narkotika, mengakui pernah dipanggil oleh Ammar Zoni untuk mengantar sabu ke tahanan lain di Rutan Salemba. Ia menjelaskan bahwa Ammar ini menawarkan upah sebesar Rp 100 ribu per minggu. Keterangan ini diberikan saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026), yang melibatkan sejumlah terdakwa, termasuk Ammar Zoni dan para terangkap lainnya.

Jaya hanya baru terlindung pada April 2025, sebelum itu ia masih berada di blok tahanan bersama Ammar di Rutan Salemba. Sementara ini, ia diketahui dihadirkan oleh jaksa sebagai saksi dalam proses penuntutan terkait peredaran narkoba. Pada saat sidang, jaksa bertanya tentang hubungan antara Jaya dan Ammar, termasuk durasi interaksi mereka.

Jaya mengungkap bahwa petugas menemukan tas Ammar berisi sabu dan bahan sintetis di lokasi kamar tahanan. Meskipun ia mengakui ikut memulihkan itu, narkoba tidak ditemukan pada posisinya. Jaksa meminta detail lokasi tas tersebut, yang diajawabnya ada di selipan dak-dakan dengan warna cokelat.

Selain itu, Jaya mengakui menjalani permintaan Ammar untuk mengantar sabu ke tahanan lain menggunakan aplikasi Zangi. Ia menjelaskan bahwa pembelanjaan dan pengantaran dilakukan melalui aplikasi tersebut, dengan perintah langsung dari Ammar. Upah yang diberikan tetap Rp 100 ribu per minggu, meskipun pembayaran akhir tetap diatur oleh pihak Ammar.

Ammar Zoni sendiri didakwa menjual sabu di Rutan Salemba sejak Desember 2024. Ia mendapatkan bahan dari individu bernama Andre, kemudian mengeluhkan ke tahanan lain. Proses ini dilakukan bersama lima terdakwa lainnya, yang juga terlibat dalam distribusi narkoba. Jaksa menyatakan bahwa tindakan mereka mencakup aktivitas peredaran narkoba golongan I, dengan kuantitas melebihi 5 gram.

Jaya juga mengingatkan bahwa Ammar pernah menawarkan sabu secara gratis bagi dirinya. Ia mengaku menggunakan alat bong hisap untuk memakainya, baik di atas maupun di bawah. Namun, ini merupakan informasi yang ia baru mengungkapkan saat menjadi saksi.

Proses penuntutan ini mengkayakkan beberapa tahap, mulai dari pengantaran melalui aplikasi hingga penemuannya oleh petugas. Meski masih ada detail yang belum terjelas, seperti sumber pembayaran dari Jaya, informasi ini menunjukkan ketegangan dalam jaringan peredaran narkoba di Jakarta.

Penghapusan narkoba dari tahanan Ammar tidak langsung menyelesaikan masalahnya. Kesengsuran ini mengkenaikan ketegangan dalam pengawasan terhadap jaringan penyalahgunaan-obatan. Kehadiran aplikasi Zangi dalam pengantaran menjadi contoh caramodern yang dipakai, yang memerlukan pengetahuan lebih dalam untuk memantau aktivitas yang bersifat ilegal.

Kasus ini menunjukkan bahwa jaringan peredaran narkoba tetap bergerak dengan cara yang terorganisasi dan terhitung. Meski ada terangkap, seperti Ammar Zoni dan Jaya, penyalahgunaan-obatan tetap menjadi tantangan besar. Kebutuhan yang besar untuk meningkatkan konsistensi penanganan serta memperkuat kerja sama antarlembaga menjadi prioritas.

Mengakui peran dalam jaringan narkoba, baik sebagai penyalahguna maupun penyalahgunaan-obatan, tidak hanya melanggar hukum tetapi juga merisahkan masyarakat. Daya tahan masyarakat terhadap penyalahgunaan-obatan harus diperkuat melalui pendidikan dan program pemulihan yang efektif.

Setiap tindakan penyalahgunaan-obatan harus dihadapi dengan ketat. Jangan sampai seperti Ammar Zoni, yang banyak terlibat dalam distribusi narkoba, berhemat dari penuntutan. Kejiwaan masyarakat harus menjadi prioritas, bukan menjadi korban dari aktivitas ilegal.

Dampak dari penyalahgunaan-obatan tidak hanya bersifat fisik tetapi juga sosial. Anak-anak yang terlibat dalam jaringan narkoba bisa mengalami trauma psikologis yang berat. Program pemulihan yang komprehensif harus menjadi fokus agar mereka bisa kembali berintegrasi dalam masyarakat.

Kekuatan hukum harus diwujudkan dengan penuh kesejahteraan sosial. Setiap terangkap harus dilandasi dengan program yang membantu mereka mengatasi penyusuhnya. Jika tidak, risiko pengulangan jaringan peredaran narkoba akan terus meningkat.

Kebijakan anti-narkoba harus dinamis sesuai dengan tren yang terbaru. Teknologi seperti aplikasi Zangi bisa digunakan tidak hanya untuk aktivitas ilegal tetapi juga untuk pemberantasannya. Peran teknologi dalam pengawasan perlu diperkuat melalui inovasi yang bijak.

Kesadaran masyarakat lainnya sangat penting. Banyak yang mungkin tidak menyadari berdampak dari aktivitas peredaran narkoba di sekitarnya. Kampanye edukasi yang terus berlangsung bisa menjadi solusi untuk mengurangi daya tarik narkoba.

Masa depan dalam memungkinkan penyelesaian jaringan narkoba memerlukan kerja sama lintas kawasan. Jaringan peredaran sering melesat dari satu wilayah ke wilayah lain. Koordinasi antarprovinsi dan dengan lembaga internasional perlu diperkuat.

Setiap orang memiliki peran dalam pemberantasan narkoba. Melaporkan aktivitas berbahaya atau membantu penyalahgunaan-obatan dapat menjadi langkah awal. Jangan ragu untuk berkontak dengan instansi terkait jika ada informasi berbahaya.

Kehadiran jaringan narkoba di Jakarta tidak bisa diabaikan. Kebutuhan untuk pembiayaan program pemberantasan yang lebih luas harus ditemukan. Dana dari pemerintah atau organisasi privi harus diprioritaskan untuk mencegah aktivitas ilegal ini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan