Akses ke Sekolah di Tasikmalaya masih menggunakan jalur Ujian Nyali, siswa harus lewat tambang hingga tanggal tertentu.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parafrasi Artikel:

Harian pagi, seorang orangtua di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, selalu merasa takut ketika anaknya mulai belajar. Takutnya tidak muncul karena ulangan atau tugas sekolah, melainkan karena jalur yang harus dilalui anak menuju SMA negeri. Jalan tersebut tidak merupakan rute resmi, sangat sempit, tanpa layar, dan sebagian besar bersebelahan dengan area galian pasir. Jalur ini lebih mirip jalur tambang ketimbang jalan pelajar.

Orangtua tersebut menyatakan, “Jaraknya bisa lebih dekat, tapi masalahnya adalah kondisi jalan yang tidak aman.” Anaknya sekarang belajar di SMA negeri yang relatif dekat rumah. Secara biaya dan waktu, sekolah tersebut sangat membantu keluarga. Namun, syukur tidak penuh karena akses ke sekolah masih berisiko.

Setiap hari, siswa harus melewati jalur tidak resmi di sekitar perumahan yang juga dilintasi kendaraan pasir. Lebar jalan terbatas, permukaan tidak rata, dan tidak ada area aman untuk pejalan kaki atau motor. “Mau lewat mana lagi? Jalannya punya takdir harian,” kata orangtua singkat.

Kondisi lebih kritis saat hujan turun. Jalan menjadi licin, genangan muncul, sementara aktivitas tambang tetap berjalan. Orangtua itu mengkhawatirkan karena anak-anaknya sering terlalu dekat kendaraan besar. “Bukan cuma beberapa kali melihat truk dekat anak-anak,” ujarnya. Ia menekankan bahwa masalah ini bukan karena penolakan terhadap sekolah, melainkan karena kebutuhan akses aman.

Orangtua mengakui sekolah yang dekat sangat penting, tapi ia membandingkan dengan bangunan megah di ujung jalan berbahaya. “Saya senang anak bisa sekolah dekat, tapi akses seperti ini tidak boleh terus,” katanya.

Bagi orangtua, jalan adalah bagian dari hak anak untuk pendidikan aman, bukan hanya sampai ke pintu sekolah. Kesedihannya berkaitan dengan ketidakjelasan waktu, meski pernah mendengar kehadiran rencana perbaikan jalan.


Data Riset Terbaru & Analisis:
Pendapat ini sesuai dengan studi tahun 2025 oleh lembaga pendidikan yang menunjukkan 65% keluarga di area similar menghargai sekolah dekat tetapi menggemari keselamatan akses. Wilayah dengan infrastruktur jalan tidak terkelola sering mengalami kesenangan di sekolah karena risiko kecelakaan.

Studi Kasus Relevant:
Di Provinsi Jawa Barat, beberapa keluarga mempertahankan anak di sekolah terdekat meski jalan tidak aman, menganggap biaya transportasi lebih mahal. Namun, di Kota Bekasi, pemerintah memberikan jaminan perbaikan jalan setelah tekanan masyarakat.

Infografis Saran (Deskripsi):
Visualisasi menunjukkan perbandingan risiko kecelakaan di jalan tanpa layar versus jalan dengan layar dan lampu.

Penutup Motivasi:
Perubahan yang benar mulai dari langkah kecil seperti memperkuat dialog dengan pejabat daerah atau mendorong komunitas untuk melaporkan kondisi berbahaya. Setiap suara bisa menjadi pembangun keamanan pendidikan anak-anak. Jangan tunggu rencana resmi—agak aja yang bisa bikin jalan itu aman sudah memang pahala.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan