20 Ton Pestisida Ditempatkan di Sungai Tangerang: Fakta Ngeri

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Salah satu insiden kebakaran terjadi di fasilitas penyimpanan PT Biotek Saranatama di Kecamatan Setu, Tangsel. Pencemaran terjadi setelah 20 ton pestisida terbakar, sehingga air sungai terkontaminasi. Kejadian ini menyebar hingga 22,5 kilometer, memengaruhi sungai Cisadane, Jeletreng, serta wilayah sekitarnya. Beberapa jenis ikan, seperti mas, baung, dan patin, sudah mati dalam area terkena pestisida.

Pemerintah Kota Tangsel telah menciptakan strategi alternatif untuk memastikan warga tetap memiliki akses air bersih. Mereka memasang tanki air untuk distribusi gratis di wilayah terpengaruh. Penanganan juga melibatkan pengalihan sumber air ke lokasi yang lebih aman, serta pengujian intensif oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan kualitas air tetap memenuhi standar kesehatan.

Polisi sedang menyelidiki kemungkinan tindak pidana terkait kebakaran. Polres Tangsel telah memeriksa lima saksi, termasuk karyawan dan manajer pabrik. Mereka juga berkoordinasi dengan laboratorium untuk memverifikasi jenis pestisida yang terbakar, seperti cypermethrin dan profenofos. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah ada ketidakpastian dalam pengelolaan bahan beracun.

Kepala Dinas Kesehatan province melakukan pemeriksaan risiko kesehatan. Ia warnetkan masyarakat tidak mengonsumsi ikan dari sungai terkontaminasi hingga hasil laboratorium selesai. Pestisida berpotensi menyebabkan kanker usus jika teringat. Selain itu, pengolahan air yang salah dapat menyebabkan gangguan pernapasan atau iritasi kulit.

Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan bahwa 20 ton pestisida telah terbakar, dengan residu kimia masih menyebar dalam aliran sungai. Dana pengendalian B3 (bahan berbahaya) masih dalam proses penyesuaian. Menteri Lingkungan menilai penyelesaian ini memerlukan evaluasi sistem pengelolaan pestisida yang lebih ketat, termasuk penegakan hukum yang transparan.

Penelitian baru menunjukkan bahwa kadar pestisida dalam air sungai masih di atas batas aman, meski sebagian telah dikurangi. Laboratorium DKI Jakarta mencatatkan beberapa jenis pestisida yang lebih berbahaya masih terdeteksi. Hal ini memaksa pemerintah mempercepat penanganan dan memperkuat regulasi penyimpanan bahan beracun.

Warga di sekitar sungai terus diasuh untuk melaporkan perubahan dalam kualitas air, seperti perubahan warna atau bau. Pendampingan dari masyarakat diperlukan untuk mempercepat respon penanganan. Selain itu, penelitian tambahan terhadap biologa air, seperti plankton dan bakteri, juga sedang dilakukan untuk memahami dampak jangka panjang.

Masa depan lingkungan kita tergantung pada keputusan kolektif. Setiap individu dapat berpartisipasi dengan melaporkan anomali lingkungan atau mengelola sampah pestisida dengan bijak. Dengan upaya bersama, kita dapat mencegah pencemaran air dan melindungi kesehatan bersama.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan