Penembakan Masjid di Selandia Baru: Ajukan Solidaritas Bagi Pengguna

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Pria yang bersadakucita supremasi kulit putih yang menembak 51 jamaah di dua masjid di Selandia Baru diudahkan banding serta hukuman seumur hidup. Brenton Tarrant, penuntut, mengakui perbuatannya di pengadilan dengan alasan “ketidakrasionalan” akibat kondisi fisik dan pikiran yang terganggu selama di penjara. Ia ditempatkan di sel isolasi, dengan akses informasi terbatas dan minimal interaksi sosial, yang menurutnya memperparah kondisi mentalnya.

Tarrant divonis atas 51 kasus pembunuhan, 40 perjayaan untuk terbunuh, dan satu tindakan teroris. Ini adalah penuntutan hukum yang paling berat di Selandia Baru untuk tindak kekerasan serupa. Proses banding akan dilengkapi oleh tiga hakim yang akan memutuskan dalam lima hari. Jika diterima, kasus ini akan kembali ke persidangan sebelumnya.

Peristiwa 2019, di mana Tarrant menyerbu masjid Christchurch sambil menyiarkan aksi di media sosial, menewaskan seluruh korban Muslim, termasuk anak dan orang tua. Ini dianggap sebagai penembakan massal paling parah dalam sejarah negara tersebut.

Pendapat Tarrant yang mencerminkan ide supremasi kulit putih terancam oleh penanganan hukum. Warga Australia yang menjadi situs perbuatan ini masih melewatkan proses formal, sehingga keputusan akhir tergantung pada keputusan pengadilan.

Phenomena ini memperparah ketegangan terhadap minoritas Muslim, yang menjadi target kebencian ekstremis. Pengadilan Selandia Baru berperan penting dalam memastikan keadilan bagi korban dan penegak hukum terhadap tindak kekerasan berbasis identitas.

Penelitian baru menunjukkan bahwa isolasi fisik dalam penjara dapat memicu gangguan psikologis berat, seperti yang terjadi pada Tarrant. Hal ini mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan dukungan psikologis bagi detainee.

Contoh laporan global menunjukkan peningkatan kasus ekstremisme berbasis identitas di beberapa negara setelah peristiwa serupa. Selandia Baru mungkin perlu memperkuat program pemahaman antaragama untuk mencegah ketegangan.

Tragedi ini menghargai pentingnya kebijaksanaan dan toleransi. Setiap individu harus berani melapor tindakan kebencian dan mendukung kebijakan yang menghormati hak setiap kelompok. Masa depan keamanan masyarakat tergantung pada kemampuan kita untuk melawan ekstremisme dengan solidaritas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan