Komisi XIII Pemeriksaan Kegiatan Napi Produksi Material Bangunan FABA di Nusakambangan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Komisi XIII DPR RI melakukan kunjungan kerja di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Tempatnya adalah Balai Latihan Kerja (BLK) FABA yang menangani residu pembakaran batu bara dari PLTU Adipala. FABA adalah singkatan dari flying ash dan bottom ash.

Dalam lokasi, 15 pekerja sedang mengolah FABA menjadi produk seperti batako, paving block, dan bahan bangunan lain. Lima orang fokus pada proses cetak, sementara dua orang lain menyiapkan hasil akhir di meja kerja.

Pihak BLK FABA menjelaskan kemampuan para pekerja dalam menghasilkan 2.000 unit paving block dan batako sehari. Dari 30 nabi yang bekerja secara teratur selama 5 jam, produksi itu menjadi solusi untuk mengolah limbah PLN.

Program ini didirikan melalui kerja sama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dengan PT PLN. PLN menyediakan bahan baku FABA, sedangkan Imipas menyediakan lokasi dan tenaga kerja. Direktur Utama PT PLN mengakui bahwa FABA dan bottom ash bisa menggantikan semen dan pasir dalam pembuatan material konstruksi.

Produk yang dihasilkan, seperti paving segi panjang atau hexagonal, sudah diakui sebagai premium karena kualitasnya. Menteri Imigrasi Agus Andrianto berharap ini mendukung pembangunan rumah murah bagi masyarakat, sesuai target Presiden membangun 3 juta ruang tersebut.

Pelatihan para nabi di Nusakambangan menunjukkan keterampilan tinggi dalam menyerap teknik pembuatan material. Produk mereka tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan nilai tambah untuk industri bangunan.

Hasil ini membuka peluang untuk mengolah limbah energi menjadi sumber daya yang berguna. Pendekatan inovatif ini bisa menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi penangkultanan limbah industri.

Pembangunan rumah murah dengan bahan alternatif seperti FABA membuka janela untuk solusi berkelanjutan. Dengan mendaur ulang limbah, masyarakat bisa mencapai dua manfaat: menghemat sumber daya alam dan meningkatkan kualitas infrastruktur.

Masa depan berkesinamannya pada kemampuan masyarakat mengadaptasi teknologi untuk mengolah sampah. Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa kolaborasi antarparti dan kreativitas warga binaan bisa mengubah tantangan menjadi peluang besar.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan