Ilmuwan Mengungkap Kiamat Alam Semesta Mengalami Keracunan Berat Lebih Cepat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Penelitian baru oleh ilmuwan Belanda mengungkapkan bahwa akhir alam semesta mungkin terjadi jauh lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Meskipun berlangsung dalam skala waktu yang sangat lama, estimasi baru ini mencapai 10 pangkat 78 tahun, atau 100 kuadrilion tahun. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 10 pangkat 1.100 tahun, seperti disebutkan dalam riset dari Universitas Radboud yang dipublikasikan di Journal of Cosmology and Astroparticle Physics.

Penelitian ini membangun pada konsep radiasi Hawking yang disempurnakan Stephen Hawking. Teori ini menyatakan bahwa lubang hitam mengemisi energi secara perlahan, sebagaimana air larut dalam segelas. Peneliti Radboud memperluas konsep ini untuk menghitung waktu penguapan benda langit awet, seperti bintang kering. Dengan analisis matematis, mereka menentukan bahwa benda dengan densitas tinggi akan berakhir lebih cepat karena absorbensi radiasi lebih besar.

Penulis utama, Heino Falcke, menekankan bahwa waktu ini masih sangat jauh. “Akhir semesta memerlukan waktu yang sangat lama, sehingga kita tidak perlu panik saat ini,” kata ia melalui detikINET. Studi ini juga mengingatkan bahwa manusia harus mengembangkan teknologi untuk mengeksplorasi luar bumi. Matahari, misalnya, akan menjadi terlalu panas dalam satu miliar tahun, mengendapkan lautan, dan dalam 8 miliar tahun mendekati Bumi, merusak planet yang tidak lagi bergerak.

Meskipun skala waktu ini sangat besar, ini menunjukkan bahwa kita masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri. Eksplorasi bintang dan meluncur ke luar planet Bumi menjadi solusi untuk menghindari badai kosmis ini. Riset ini tidak hanya mengeksplorasi prinsip fisika, tetapi juga menguatkan kepercayaan bahwa manusia harus terus berinovasi untuk menjaga kehidupan di bumi.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan