RSUD Dewi Sartika di Tasikmalaya tertutup karena satu ventilator bagi BPJS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

RSUD Dewi Sartika di Tasikmalaya masih menjadi etalase kosong meski lampu menyala, menantang layanan BPJS Kesehatan. Budi Budiman, mantan wali kota, menyentuh ketidakpastian ini dengan kabar menyusul. “RSUD ini dipromosikan sebagai solusi untuk pasien BPJS, tapi kenyataannya belum bisa mengacu mereka,” ujarnya Selasa (9/2/2026).

Masalah utama terletak pada kebutuhan minimal dua unit ventilator ICU, sementara rumah sakit hanya memiliki satu. Biaya satu unit mencapai Rp450 juta, mengganggu kerja sama BPJS. Budi menyarankan pemerintah lokal memprioritaskan pembelian atau mencari dukungan dari CSR BJB, Baznas, atau lembaga lain yang berwenang. “Masyarakat peserta BPJS sering tidak mampu membiayainya sendiri,” tegasnya.

Kondisi ini mengungkap kelemahan dalam perencanaan anggaran. Meski RSUD Dewi Sartika didirikan tahun 2016 bersama RSUD Purbaratu, kesiapan operasional untuk BPJS masih lambat. Hanya melalui APBD 2026 yang mungkin memenuhi kebutuhan ventilator.

Masalah ini bukan cuma soal teknologi, tapi juga prioritas layanan kesehatan. Budi berharap pemerintah lokal segera mengatasi, agar masyarakat BPJS tidak tersesat.

Apabila semua sumber dana teratur belum mampu, masyarakat bisa menjadi penggerak. Kolaborasi dengan organisasi sosial atau kampanye publik mungkin menjadi solusi alternatif. Investasi dalam kesehatan bukan hanya investasi fisik, tapi juga investasi keadilan sosial.

Kesadaran akan kekurangan fasilitas kesehatan ini harus menjadi panggung bagi pemerintah. Langkah cepat dalam memenuhi kebutuhan dasar bisa menjadi inti pembangunan yang berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan