Siswa dikukus melakukan squat 800 kali karena tidak menyelesaikan PR, dan akhirnya masuk RS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Siswa laki-laki di Thailand mengalami kerusakan fisik berat setelah dipaksa melakukan squat ratusan kali sebagai sanksi karena tidak menyelesaikan tugas rumah. Penyangkatan ini dilakukan oleh instansi pendidikan di Provinsi Lopburi pada 5 Februari, seperti dilaporkan oleh sumber informasi lokal. Putranya berusia 13 tahun mengakui nyeri parah di kaki setelah hukuman tersebut, sehingga keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit.

Drafik penyelidikan oleh Komisi Pendidikan Dasar Thailand (OBEC) telah memulai, dengan tim peneliti diminta melaporkan hasil dalam satu minggu. Ayah korban mengungkapkan kondisi Otto masih kritis, sekaligus menyebarkan informasi bahwa dua siswa perempuan dari sekolah yang sama juga mengalami gangguan sejenis. Guru yang terlibat telah diplace sementara, sementara pejabat pendidikan lokal menerbitkan perasaan kesal terhadap ide hukuman fisik yang dianggap berlebihan.

OBEC juga mempertimbangkan kemungkinan pelanggaran hukum terkait pencegahan penyiksaan. Pemerintah Thailand memberikan dukungan awal sebesar 3.000 baht kepada keluarga korban, sedangkan pejabat distrik menyampaikan terima kasih kepada keluarga.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa praktik hukuman fisik di sekolah semakin umum di Asia Tenggara, meski banyak lembaga edukasi mengeluhnya. Studi kasus ini mengilustrasikan risiko fisik dan psikologis yang dapat muncul dari sanksi yang tidak sebanding dengan tata kelola sekolah.

Situasi ini juga menggeser perhatian terhadap standar etika pendidikan. Beberapa lembaga pendamping memperingatkan bahwa hukuman fisik tidak hanya merusak kesehatan fisik tetapi juga menciptakan trauma psikologis yang panjang.Sebagai solusi, beberapa sekolah mulai mengadopsi sistem sanksi non-fisik seperti penugasan tambahan atau peralatan pembelajaran interaktif.

Kasus Otto menjadi pengingat penting bagi instansi pendidikan untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan ketertiban. Hukuman yang berlebihan dapat melukai nilai-nilai moral siswa, sehingga lebih penting untuk mengembangkan pendekatan yang lebih ramah dan konstruktif dalam mengatur ketidakpatikan.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan