Side Hustle di Balik Keranjang Kuning

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Langkah awalnya sebagai afiliator dilakukan tanpa harapan besar. Ia mengunggah video sengaja, tanpa rutin, bahkan jumlahnya tergantung pada jari. Namun, ketika ia tidak mengharapkan, ada respons yang muncul dari arah yang tak terkira. Salah satunya adalah brand yang menghubungkan dan bertanya tentang fee konten. “Meski aku belum rutin posting, mungkin hanya kurang dari lima konten. Tapi ternyata ada brand yang tertarik bayar,” kata Felicia. Moment ini menjadi bewijs awal bahwa aktivitasnya memiliki nilai, meski masih dalam tahap awal.

Keyakinannya semakin padat ketika komisi pertama berhasil masuk. Bahkan nominalnya kecil, hanya sekitar lima hingga sepuluh ribu rupiah, tetapi dampaknya lebih besar dari angka itu. “Rasa nyaman banget karena dari orang yang menonton konten aku, tertarik beli sampai checkout dari video aku,” katanya. Dari sana, Felicia mulai memahami mekanisme afiliasi. Konten yang ia buat bukan sekadar tontonan, melainkan jembatan antara produk dan keputusan beli orang lain. Setiap klik atau checkout adalah bukti bahwa pengaruh bisa dikonversi menjadi penghasilan.

Sejak saat itu, afiliasi tak lagi ia anggap sekadar coba-coba. Ia merencanakan ulang waktu, membagi hari antara pekerjaan utama dan side hustle. Felicia bekerja sebagai desainer grafis, mulai dari freelance, lalu agency, hingga akhirnya berpindah ke perusahaan korporat. Dunia agency yang penuh jadwal yang ketat dan revisi tanpa akhir pernah menguras tenaga serta emosi. Pada satu fase bahkan, ia menjalani tiga peran sekaligus: kerja kantor, freelance, dan membuat konten. Semua dilakukan bersamaan, dengan konsekuensi waktu istirahat yang semakin tersempit.

Rutinitas sehariannya pun mengalami perubahan tajam. Waktu bersosialisasi perlahan hilang. “Hangout hampir jarang muncul,” katanya. Ia mulai sadari bahwa waktu adalah aset yang mahal lebih dari uang. Hari-harinya kini penuh kalender dengan jadwal posting, catatan ide konten, dan to-do list pekerjaan kantor. Setiap jam harus memiliki fungsi, setiap jeda harus dihitung. Berbeda jauh dari masa sebelumnya, ketika hari-hari bisa berjalan tanpa perencanaan ketat.

Meski terlihat rapi dari luar, kesehatan sehari-hari Filicia diwarnai dengan kelelahan yang tidak selalu terlihat di layar. Ia mengakui mudah overthinking dan stres. Burnout sering muncul, bahkan hingga membuatnya sakit. Namun ia tetap bertahan dengan satu prinsip yang teguh: pekerjaan kantor adalah prioritas utama. Saat berada di kantor, fokusnya sepenuhnya untuk tugas utama. Konten dan afiliasi ia kerjakan setelah pulang, ketika hari sudah gelap dan energi tersisa sedikit. Dari disiplin itu, ia mencoba menjaga kedua dunia tetap berjalan beriringan.

Akhir pekan yang biasanya menjadi waktu istirahat, justru menjadi hari kerja terpadat bagi Filicia. Sabtu dan Minggu ia manfaatkan untuk mengupload sepuluh hingga empat belas konten sekaligus. Salah satunya, jadwal outing kantor mengambil waktu akhir pekannya, memaksanya bekerja dua kali lipat di minggu sebelumnya. Setelah acara selesai, ia kembali bekerja hingga Jumat tanpa jeda yang cukup. “Fisik dan mental capek banget, sering sakit, tapi tetap harus tampil penuh energi di kamera,” ujarnya.

Kesemua pengalaman ini menunjukkan bahwa afiliasi bisa memberikan fleksibilitas, tetapi memerlukan keseimbangan yang matang untuk menghindari burn out. Kisah Felicia mengingatkan bahwa pribadi harus tetap menjadi prioritas, bahkan ketika keberhasilan masih menjerat.

Setiap langkah kecil dalam dunia digital bisa menjadi awal yang signifikan. Yang penting, kita tidak lupakan kesehatan mental dan fisik, padahal kedaulannya. Kinerja terbaik tidak bisa dihasilkan dengan laga penuh stres. Jika ada yang bermimpi mengikuti jalannya, jangan lupa mengecek keseimbangan diri terlebih dahulu. Kejelasan dan kreativitas akan muncul lebih maksimal ketika kita merasa sehat dan tenang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan