Menggali Jalan Pasir Menuju Sekolah: Potret Budidaya Pendidikan di Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya: Siswa Menuju Sekolah Melalui Jalan Berbahaya

Di Kota Tasikmalaya, siswa tetap menghadapi tantangan fisik seperti tanjakan, batu, lumpur, dan debu tambang untuk sampai ke sekolah. Masih bukan metafora.

SMA Negeri 11 Tasikmalaya, yang berdiri dengan fisik mewujud, terus menghadapi kekurangan akses jalan. Rute harian siswa melibatkan perjalanan yang penuh risiko di Kecamatan Bungursari.

Hak pendidikan yang layak ini membutuhkan keberanian siswa untuk melintasi jalur yang tidak aman setiap pagi. Di sekolah baru ini, yang membangun di Jalan Gunung Cihcir, aresnya terpotong oleh tanah milik pribadi dan kawasan tambang pasir.

Jalan umum menuju sekolah masih belum ada. Siswa hanya memiliki dua pilihan: mencari jalur sempit di perumahan atau melewati area galian pasir yang penuh gelembung dan debu.

Sekolah berdiri di lokasi yang diturunkan oleh area pribadi, tetapi jalannya “pinjam” ruang dari sekitar. Jika tidak menggunakan jalan pintas di Perumahan Wijaya Agape, siswa dipaksa memasuki area gelembung pasir yang risikasi.

Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin. Saat panas, debu tambang menyebar bersama lalu-lalang. Helm proyek lebih penting daripada seragam sekolah.

Kepala sekolah, Dian Widyastuti S.Pd., M.Pd, mengungkapkan kondisi akses masih menjadi masalah utama. Sekolah memiliki 12 guru dan tenaga kependidikan, tetapi kebutuhan jalan tetap mendesak.

Orang tua sering tersingkir untuk membawa anak mereka melalui jalur berbahaya. Salah satu ibu menunggu anaknya dengan wajah cemas, pengalaman ini baru pertama kali menghadapi akses seperti itu.

Pendidikan harus didukung dengan infrastruktur aman. Masalah ini meminta solusialti untuk menciptakan jalur yang nyaman, bukan hanya mengandalkan keberanian siswa.

Pendidikan yang layak dimulai dari lingkungan yang mendukung. Di Tasikmalaya, perjuangan siswa untuk menuju sekolah harus dihargai dengan tindakan segera.

Jalan berbahaya bukan ciri khas pendidikan. Kasus ini mengingatkan bahwa akses sekolah adalah hak dasar yang harus dibenarkan dengan cepat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan