HMI Berusia 79 Tahun, Mahasiswa di Tasikmalaya Diingatkan Wajib Hadir di Semua Persoalan Rakyat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Tasikmalaya telah menjangkau usia 79 tahun. Namun, fokus saat ini bukan lagi pada ketenangan usia, melainkan seberapa besar rasa peduli mahasiswa terhadap isu-isu masyarakat setempat. Die Dinamis ke-79 ini diisi dengan refleksi sebenarnya: apakah generasi mahasiswa masih siap menjadi pemberi solusi atau sudah terlalu terlibat dalam peran pendengar yang pasif?

Mulai dari pengakuan bahwa HMI berdiri sejak 5 Februari 1947, organisasi ini telah melalui banyak perubahan—dari era revolusi hingga era digital. Hampir 79 tahun kemudian, tantangan mahasiswa di Tasikmalaya lebih kompleks: memastikan relevansi HMI dalam menyelesaikan masalah pendidikan, ekonomi, dan sosial yang berdampak langsung bagi warga.

Ketua Umum HMI Cabang Tasikmalaya, Nazmi Nurazkia, menekankan bahwa usia yang lebih tua membutuhkan kebijaksanaan dan keberanian untuk menegakkan suara di ruang publik. “Dies Natalis ini bukan sekadar perayaan tumpah tahun. Ini kesempatan untuk mengingat kembali peran HMI sebagai gerakan intelektual yang ingin memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Nazmi dalam percakapan dengan media.

Namun, Nazmi juga menekankan bahwa aktivitas simbolis seperti konvoi atauceramoni tidak boleh mengabaikan esensi: keberpihatan di lapangan dan kemampuan mempertanyakan kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan umum. HMI Cabang Tasikmalaya mengejar strategi baru dengan mengkukus tradisi intelektual melalui diskusi kritis, kajian lapangan, dan aktivisme kebijakan lokal.

Aktivitas dies natalis ke-79 HMI Cabang Tasikmalaya terdiri dari berbagai program. Konvoi Hijau Hitam, wisata intelektual, dan refleksi kolektif menjadi media utama untuk mengingatkan identitas HMI sebagai gerakan kaderisasi berbasis pemikiran. Bagi banyak mahasiswa, ini adalah peluang untuk memangkas ketidakadilan sosial, seperti ketidakadilan dalam akses pendidikan atau krisis ekonomi warga.

Mimbar Bebas menjadi ruang untuk mahasiswa memangkas ketidakadilan yang masih mengungu di Tasikmalaya. Isu-isu seperti kesenjangan pendidikan, krisis ekonomi, dan problem sosial yang tidak segera dipulihi menjadi topik diskusi. Namun, HMI berusaha tidak mengulang cerita yang lama, melainkan menawarkan solusi yang praktis.

Strategi HMI Cabang Tasikmalaya menawarkan pesan penting: relevansi organisasi tidak hanya terukur dari umur, tetapi dari kemampuan memberikan dampak nyata. Dengan menguatkan tradisi intelektual dan berinovasi dalam metode aktivisme, HMI bisa tetap menjadi jembatan antara pemikiran akademik dan kebutuhan masyarakat.

Di era digital yang makin cepat, HMI harus tetap terukur bukan hanya dari aktivitas fisik, tetapi juga dari pengaruh ide dan solusi mereka. Mahasiswa harus mengingat bahwa keberadaan HMI bukan hanya untuk meraih keuntungan simbolis, melainkan untuk menjadi agen perubahan yang nyata.

Setiap generasi memerlukanketegangan untuk menghadapi tantangan baru. HMI Cabang Tasikmalaya bisa menjadi contoh bagi organisasi lain: relevansi tidak boleh terburu-buru, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Dengan menggabungkan pemikiran kritis dan aktivisme lapangan, HMI bisa menjadi proliferation yang positif bagi kemasyarakatan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan