Wamendagri Kunjungi Dapur MBG di Kota Banjar, Tekanlah Standar Sterilisasi dan Pengelolaan Limbah

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Komjen Polisi (Purn), menyelami Banjar untuk menjalankan tugas kerja. Salah satu tujuan kunjungannya adalah memantau direkt menghubungi dapur MBG (Makan Bergizi Gratis/SPPG) di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman. Sebelum itu, ia memberikan arahan kepada Wali Kota Banjar beserta timnya di Pendopo Kota. Setelah itu, kelompok langsung ke lokasi dapur MBG.

Di dapur tersebut, Wamendagri didampingi Wali Kota Banjar, Wakil Wali Kota, serta tim pendamping. Mereka melakukan pengecekan untuk memastikan proses sudah sesuai ketentuan. Saat ini, Wamendagri menekankan pentingnya standar kebersihan dan sterilitas. “Semua yang masuk ke dapur MBG harus menggunakan masker, bersih tangan, pakai sendal, hingga penutup kepala,” ujarnya.

Standar ini wajib diwasi oleh semua pekerja dapur untuk menjaga kualitas makanan. Akhiri, Wali Kota Banjar, H Sudarsono, menjelaskan tujuan kunjungannya adalah memastikan pelaksanaan program MBG, KDMP, dan cek kesehatan gratis berjalan lancar. Ia menyebut, saat ini Kota Banjar memiliki 34 dapur MBG, namun hanya 27 dapur beroperasi, sisanya masih dalam proses.

Dapur di Hegarsari dipilih karena memenuhi standar, baik fisik maupun makanan. Meskipun desain belum sepenuhnya sesuai aturan Badan Gizi Nasional (BGN), dapur ini diharapkan menjadi contoh bagi dapur lain. Menurut Sudarsono, fokus utama adalah menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat.

Data terbaru menunjukkan dapur MBG di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga standar kebersihan. Banyak dapur memenuhi persyaratan fisik tetapi kurang konsisten dalam praktik sterilitas. Studi ujian menunjukkan 60% dapur MBG yang tidak memenuhi protokol lengkap dari ujung kaki hingga kepala.

Kasus dapur di Hegarsari menunjukkan potensi solusi praktis. Meskipun belum sempurna, pengalaman mereka bisa menjadi referensi untuk dapur lain. Infografis menunjukkan, dapur MBG yang memenuhi standar 100% bisa mengurangi risiko penyakit mencegah melalui makanan.

Artikel ini mengajak masyarakat untuk memperhatikan pentingnya kebersihan dalam program sosial. Pelaksanaan MBG tidak hanya tentang distribusi makanan, tetapi juga kualitasnya. Setiap dapur harus menjadi model kebersihan yang konsisten.

Ini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Setiap orang memiliki peran dalam memastikan program seperti ini berjalan lancar. Dengan kesadaran bersama, kita bisa menentukan prioritas kesehatan di level komunitas.
Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Komjen Polisi (Purn), menyelami Banjar untuk menjalankan tugas kerja. Salah satunya adalah memantau langsung dapur MBG (Makan Bergizi Gratis/SPPG) di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman. Sebelum itu, ia memberikan arahan kepada Wali Kota Banjar beserta timnya di Pendopo Kota. Setelah itu, kelompok langsung ke lokasi dapur.

Di dapur tersebut, Wamendagri didampingi pejabat daerah serta tim pendamping. Mereka melakukan pengecekan untuk memastikan semua proses sesuai ketentuan. Saat ini, Wamendagri menekankan standar kebersihan dan sterilitas. “Semua yang masuk ke dapur MBG harus menggunakan masker, bersih tangan, pakai sendal, hingga penutup kepala,” ujarnya.

Wali Kota Banjar, H Sudarsono, menjelaskan tujuan kunjungannya adalah memastikan pelaksanaan program MBG, KDMP, serta cek kesehatan gratis berjalan lancar. Ia menyebut, saat ini dapur MBG di Kota Banjar sudah mencapai 34 dapur, namun hanya 27 dapur beroperasi. Sisanya masih dalam tahap proses.

Dapur di Hegarsari dipilih karena memenuhi standar, baik fisik maupun makanan. Meskipun desain belum sepenuhnya sesuai aturan Badan Gizi Nasional (BGN), dapur ini diharapkan menjadi contoh bagi dapur lain. Sudarsono menekankan, fokus utama adalah menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat.

Data terbaru menunjukkan dapur MBG di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga standar kebersihan. Banyak dapur memenuhi persyaratan fisik tetapi kurang konsisten dalam praktik sterilitas. Studi ujian menunjukkan 60% dapur MBG yang tidak memenuhi protokol lengkap dari ujung kaki hingga kepala.

Kasus dapur di Hegarsari menunjukkan solusi praktis. Meskipun belum sempurna, pengalaman mereka bisa menjadi referensi bagi dapur lain. Infografis menunjukkan, dapur MBG yang memenuhi standar 100% bisa mengurangi risiko penyakit mencegah melalui makanan.

Artikel ini menyoroti pentingnya kebersihan dalam program sosial. Pelaksanaan MBG tidak hanya tentang distribusi makanan, tetapi juga kualitasnya. Setiap dapur harus menjadi model kebersihan yang konsisten.

Ini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat. Setiap orang memiliki peran dalam memastikan program seperti ini berjalan lancar. Dengan kesadaran bersama, kita bisa menentukan prioritas kesehatan di level komunitas.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan