Menteri PPPA Mengungkap Isu Anak SD di NTT: Kritik Karena Tak Punya Cerita yang Mampu Dibaca

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Pembangunan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, membicarakan kondisi siswa SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, yang tragis kehilangan hidup karena gagang diri. Penyebabnya, menurut analisa tim, berkaitan dengan kebutuhan pendidikan yang tidak terpenuhi. Siswa tersebut tidak memiliki fasilitas untuk menyampaikan kesulitan, seperti alat tulis dan pen, yang menjadi faktor utama tragedi.

Arifah menjelaskan bahwa budaya lokal di area tersebut masih mempengaruhi persepsi, di mana anak laki-laki dianggap tidak boleh menunjukkan ketagihan. Hal ini, dia ujar, mungkin menjadi penyebab psikologis yang akumulatif. Namun, tim masih dalam proses penelitian mendalam untuk memahami penyebab utamanya.

Tragedi ini melibatkan siswa kelas IV SD di SD Negeri di daerah tersebut. Anak tersebut dipungut biaya Rp 1.220.000 per tahun, yang dibayar dalam rata-rata. Ibu-ibu yang tidak mampu memenuhi biaya ini, termasuk YBR (10), yang menjadi korban. Sebelum tragedi, siswa tersebut telah tertarik uang sejumlah kali, sebesar Rp 1,2 juta, yang tidak memenuhi kebutuhannya.

Arifah menekankan pentingnya mendukung keluarga kurang mampu dalam menutupi biaya pendidikan. Ia mengajak pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan bantuan lebih lanjut, terutama untuk anak-anak di daerah terpencil. Selain itu, dia menegaskan kebutuhan untuk merenovasi pandangan budaya yang memungkinkan anak melambangkan rasa penuh tanpa dipecah.

Kondisi ini mengingatkan bahwa akses pendidikan adalah hak yang harus dikuasai. Jika ada anak yang tidak dapat belajar karena kondisi ekonomi atau sosial, itu menjadi tanggung jawab bersama. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan membantu mencegah keserakahan seperti ini. Semua pihak perlu berkolaborasi untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan anak-anak.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan