NU 100 Tahun di Tasikmalaya: Menggandikan Karnaval Budaya ke Agenda Peradaban

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com — Lahan di depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya terasa penuh aktivitas ketika ribuan warga Nahdlatul Ulama mengikuti karnaval ke-100. Acara ini, yang dikhususkan untuk hari Sabtu 7 Februari 2026, menggabungkan elemen budaya lokal seperti payung gelis, hasil bumi, hingga atribut adat yang menghidupkan suasana festif.

Karnaval ini tidak hanya berfungsi sebagai pawai atau perayaan, melainkan menjadi ekspresi dari gotong royong yang sudah lama digagas oleh komunitas NU di berbagai desa. Tema utamanya menekankan nilai pertahanan budaya tradisional melalui ekspresi budaya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengakui bahwa momentum karnaval ini dijanjikan oleh semangat warga. Ia mengungkapkan bahwa ketertarikan pejabat seperti Ketua PCNU, Polri, hingga Kepala DPRD dalam menyelenggarakan perjalanan karnaval berasal dari dukungan luas masyarakat. “Semangat warga NU, dari anak-anak hingga manula, menjadi penindah yang mendorong kami berjalan kaki,” kata Diky.

Meski Diky menyatakan kondisi kesehatannya tidak optimal, ia tetap berani mengikuti karnaval karena dukungan warga. “Saya masih kurang sehat, tapi dukungan mereka membuat saya bisa tetap berdiri di barisan,” katanya dengan senang hati.

Di sisi lain, Diky juga menjelaskan kekuatan NU di Tasikmalaya tidak hanya terletak pada aspek keagamaan, tetapi juga pada netralitas pesantren yang berjumlah lebih dari 200 lembaga. Pesantren tersebut diyakini menjadi pusat belajar yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi motor dalam mengembangkan ekonomi lokal, kebersihan lingkungan, hingga kemanfaatan sumber daya.

“Kita harap Tasikmalaya bisa jadi kota yang benar-benar ‘Tasik’ dengan nilai-nilai positif. Pesantren bisa menjadi solusi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi, menjaga lingkungan, serta meningkatkan kemanfaatan sumber daya,” ujar Diky.

Kepala PCNU Tasikmalaya KH Dudu Rohman mengakui karnaval ke-100 ini sebagai simbol rasa memiliki warga terhadap Nahdlatul Ulama. “Arah-rah karnaval ini membuktikan bahwa masyarakat Tasikmalaya penuh gotong royong dan keberagaman. Kearifan lokal yang ditampilkan menjadi nilai positif yang harus diperkuat,” kata Tudu.

Menurut Tudu, karnaval ini menjadi peluang penting untuk memperkuat nilai-nilai Aswaja NU dan menciptakan regenerasi kader. “NU tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tapi juga pada aspek sosial. Kegiatan seperti pengurangan kekurangan pangan, pencatatan kesehatan, hingga penegakan kebersihan adalah bagian dari tanggung jawab sosial NU,” tambahnya.

Karnaval ini juga menawarkan peluang untuk memperkenalkan kearifan lokal seperti pembuatan tasbih. Salah satu rencana masa depan adalah menciptakan “Tasik, Tasbih Asik” melalui pelatihan pengrajin kelom di Bantul.

Secara keseluruhan, karnaval ke-100 Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi platform untuk memperkuat fungsi sosial dan ekonomi NU di daerah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan