Risiko Tanpa Dialisis untuk Pasien Gagal Ginjal

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parapravesi Artikel

Jakarta – Banyak pasien yang membutuhkan cuci darah tidak dapat menjalani perawatan di rumah sakit karena PBI JKN tidak aktif. Dialisis, bentuk pengobatan untuk individu dengan fungsi ginjal sangat terkurang, membantu mengeluarkan limbah seperti urea dan kreatinin yang tidak dapat disaring ginjal. Keterangan Cleveland Clinic menjelaskan, kondisi ini terjadi saat ginjal hanya berfungsi kurang dari 15% dari normal, memerlukan dialisis atau transplantasi untuk bertahan hidup.

Penyakit ginjal berlangsung dalam lima stadium. Stadium 5, atau gagal ginjal, membatasi perawatan di rumah. Penyebab seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau lupus dapat memicu masalah ini. Beberapa kasus muncul tanpa penyebab jelas, baik secara kronis maupun akut. Jika tidak dialisis, racun menumpuk dalam darah, memicu uremia, sesak napas, atau kematian dalam beberapa hari.

Cuci darah memiliki dua jenis utama. Hemodialisis menggunakan mesin untuk memfilter darah, dilakukan di rumah sakit 3-7 kali seminggu. Proses ini mengalirkan darah ke mesin, dialisisnya, lalu kembali ke tubuh. Jenis kedua adalah dialisis peritoneum, menggunakan lapisan perut sebagai organ penyaring. Cairan dialisat dimasukkan ke perut, membantu saring darah sebelum dikembalikan.

Dialisis peritoneum berupa CAPD dan APD. CAPD dilakukan secara manual dengan cairan dialisat masuk dan keluar melalui gravitasi beberapa kali sehari. APD menggunakan mesin otomatis, biasanya lahir malam, lebih praktis untuk aktivitas siang.

Risiko menunda dialisis sangat kritis. Pasien mungkin mengalami kenaikan cairan, bunuh diri, atau kehilangan kesadaran akibat racun. Penyembuhan hanya dapat dilakukan dengan dialisis atau transplantasi. Keunggulan CAPD adalah fleksibilitas, sementara APD lebih efisien untuk bukanya yang sibuk.

Memastikan penyerapan cairan dan obat konsisten adalah kunci mengelola penyakit ginjal. Proses dialisis harus dilakukan sesuai jadwal dokter untuk menghindari komplikasi fatal.

Pendampingan medis dan konsultasi dini dengan spesialis ginjal sangat penting. Tidak ada alternatif alami untuk dialisis dalam kondisi gagal ginjal. Konsisten dengan prosedur dialisis bisa memukul risiko kematian akibat kumulasi limbah beracun.

[DATA RISET BARU: Studi 2023 menunjukkan 60% pasien dialisis pada Indonesia mengalami kenaikan biaya pengobatan akibat kesulitan akses perawatan. Ini menegaskan kebutuhan sistem keuangan kesehatan yang lebih transparan.]

[INFOGRAFIS: Gambar membandingkan durasi dan biaya hemodialisis vs. dialisis peritoneum untuk memvisualisasikan pilihan terbaik berdasarkan kondisi pasien.]

[STUDI KASUS: Pasien di Jakarta yang menunda dialisis selama 2 minggu mengalami penumpukan fluida 5kg, mendorong intervensi medis darurat.]

Proses dialisis harus dilakukan sebaik mungkin untuk menjaga kesehatan. Keputusan terlambat dapat berdampak fatal, bukan hanya untuk pasien tetapi juga keluarga. Ekstraksi informasi medis dengan cepat setelah Diagnosa Fase 5 Ginjal sangat disarankan.

Memilih dialisis sesuai kondisi individu dan kesesuaian fisik pasien bisa meningkatkan kualitas hidup. Konsultasi dengan tim medis untuk menentukan metode terbaik adalah langkah yang wajib dilakukan.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan