Miris Gajah di Riau Meninggal dalam Bungkus, Kasus Diusut Dibongkar Polisi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gajah Sumatera Mewahi dalam Kejadian Berbahaya di Riau

Di kecamatan Ukui, kabupaten Pelalawan, Riau, gajah umur 40 tahun teriak karena kondisi mengasap. Warga lokal mencari tahu keluhan ini saat Senin (2/2/2026) malam. Polisi dan BKSDA Riau segera menyelidiki lokasi.

Hasil penyelidikan menunjukkan gajah tersebut bilang tertua, tidak mati secara alami. Mati duek oleh proyektil. Penyebab kematian ini terkait perburuan liar yang bertujuan mengambil gadingnya.

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menyaksikan fakta ini dengan marah. Ia menjanjikan tindakan penuh untuk menangkap pelaku. Penyelidikan ini menjadi bagian dari program Green Policing yang bertujuan melindungi kehidupan hayati.

Laboratorium forensik Polda Riau menemukan dua proyektil di kepala gajah. Salah satunya memiliki ukuran 12,30 mm, sementara yang lain 6,94 mm. Analisis tambahan mengungkap zat kimia seperti tin, fosfor, dan residu senjata. Hasil tes tanah dan air di sekitar area gagal menemukan indikasi racunan.

Polda Riau sedang mengumpulkan keterangan lima saksi utama. Tim gabungan dari satreskrim polisi dan BKSDA akan menyelaraskan hasil laboratorium dengan keterangan saksi. Penyelidikan ini bersifat mendalam, karena kasus ini melibatkan kejahatan terhadap sumber daya alam.

Gajah yang ditangani ini adalah gajah liar, bukan gajah dalam pengawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Kapolda Riau menegaskan adanya jalur masuk gajah ke wilayah ini yang masih terbuka, sehingga risiko perburuan tetap tinggi.

Data Terbaru: Tren Perburuan Liar di Riau
Penelitian baru menunjukkan peningkatan aktivitas perburuan liar di wilayah Sumatera. Data dari 2025 hingga 2026 menunjukkan peningkatan 30% kasus gajah dan orang hutan yang menjadi korban. Faktor utama adalah kebutuhan satuan berisiko dan kurangnya patrolling di area kritis.

Studi Kasus: Gajah Sumatera di Riau Mati
Kasus ini mirip dengan kecacian gajah di Lampung tahun lalu. Di sana, gajah juga dibunuh karena gading. Penyelidikan menunjukkan pelaku biasanya menggunakan senjata ringan untuk menghindari deteksi.

Analisis: Dampak terhadap Konservasi
Kematian gajah ini tidak hanya menghancurkan kehidupan spesies, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem. Gajah Sumatera menjadi simbol cerah di rantai makanan, sehingga kehilangan ini memengaruhi flora dan fauna sekitar.

Penegasan dari Konservasi
BKSDA Riau mengajukan tawaran untuk meningkatkan jalur pengawasan dan memperluas program penyelidikan perburuan. Eksternalitas seperti jaringan social media juga diminta untuk memicu kesadaran masyarakat.

Gelombang kasus perburuan ini memaksa pemerintah dan masyarakat bekerja sama. Melindungi gajah bukan hanya tentang melindungi satu spesies, tetapi menjaga keberlanjutan alam Indonesia.

Kehidupan gajah harus dihargai sebagai nilai tak terganti. Setiap kematian menjadi pengingat bahwa aktivitas ilegal seperti perburuan liar tidak dapat diabaikan. Siapa pun yang menyaksikan tragedi ini, harus berpartisipasi dalam usaha untuk mencegahnya.

Pendapatmu tentang bagaimana melindungi gajah Sumatera? Bagikan pengalaman atau ide Anda di komentar untuk mendorong aksi kolektif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan