RS Dewi Sartika di Tasikmalaya masih belum sepenuhnya mampu menyediakan layanan kesehatan bagi penerima BPJS, meskipun operasionalnya sudah berjalan sejak Desember 2024. Biaya operasional rumah sakit tipe D ini cukup signifikan, mencakup gaji tenaga medis, biaya energi, dan pemeliharaan alat medis. Namun, jumlah pasien yang memanfaatkan layanannya tetap sangat terbatas, mengakibatkan anggaran pemerintah yang dikeluarkan menjadi sumber pengeluaran bebas.
Tatang Pahat, ketua DKKT, menilai situasi ini tidak efisien. “Bagi gaji yangeket, tentu saja di atas ratusan juta,” ujarnya. Hal ini mengingatkan bahwa meskipun dana pemerintah mengalokasikan untuk RSUD ini, manfaatnya bagi masyarakat tidak tercapai karena jumlah kebutuhan pasien yang belum terpenuhi. Kehilangan pasien yang sepi juga menimbulkan risiko psikologis bagi tenaga medis yang mungkin kehilangan semangat kerja.
Penyelesaian yang ditawarkan oleh Tatang melibatkan penghentian operasional RS Dewi Sartika sementara hingga rumah sakit tersebut memenuhi standar kompetensi BPJS. Alternatifnya, anggaran dan tenaga medis bisa dialihkan ke puskesmas atau RSUD dr Soekardjo yang lebih terpadu dengan layanan umum. “Dana yang dimanfaatkan untuk layanan tidak berdaya akan lebih efektif jika digunakan untuk program kesehatan bersama atau pemerataan akses,” sengaja ditariknya.
Data terbaru menunjukkan bahwa rumah sakit dengan keberlanjutan rendah sering menjadi sumber pengeluaran pemerintah yang tidak memberikan nilai tambah. Sebagai contoh, penelitian dari Kementerian Kesehatan 2025 mencatat bahwa 30% rumah sakit di provinsi dengan kapasitas rendah hanya melayani 15% pelanggan BPJS. Hal ini menjadi bahan petang untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya kesehatan.
Tentang strategi pengelolaan anggaran, infografis dari Badan Penyelenggara BPJS 2025 menunjukkan bahwa rumah sakit dengan layanan terstruktur dan kompetensi tinggi dapat meningkatkan efisiensi hingga 40%. Untuk kasus RS Dewi Sartika, solusi mungkin berada pada peningkatan kolaborasi dengan facility lain atau pengembangan layanan spesifik seperti pelayanan darurat.
Mengoptimalkan penggunaan anggaran kesehatan bukan hanya soal menghemat biaya, tetapi juga memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan manfaat nyata bagi rakyat. Dengan memfokus pada kualitas layanan dan efisiensi operasional, rumah sakit bisa menjadi lebih relevan dalam era sistem BPJS yang terus berkembang. Semakin cepat penyelesaian ini, semakin besar peluang untuk mencegah kehilangan sumber daya yang penting.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.