Siap Bergabung dengan Oman dan Iran, Menerima Partisipasi Serius dari AS

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Muscat – Iran dan Amerika Serikat (AS) siap menghadiri perundingan nuklir di Oman pada Jumat (6/2) waktu setempat. Teheran mengharapkan AS berpartisipasi dengan serius, sementara AS ingin memahami apakah ada kemajuan diplomatik terkait program nuklir Iran serta isu-isu lain.

Pertemuan ini, seperti dilansir AFP, merupakan pertama setelah AS mendukung Israel dalam konflik melawan Iran pada Juni 2025, yang melibatkan pemusatan situs nuklir Teheran. Lokasi, waktu, dan format dialog dikonfirmasi oleh kedua belah pihak setelah banyak laporan yang mengkhawatirkan ketidaksepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, akan memimpin delegasi masing-masing negara. Muscat dikenal sebagai pendamping di konflik ini. Laporan IRNA menyebut Araghchi tiba di Muscat pada Kamis (5/2) malam.

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menekankan bahwa Iransya berkomitmen untuk tidak mengabaikan kesempatan untuk menjaga perdamaian melalui diplomasi. Baghaei menegaskan harapan untuk AS berpartisipasi tanpa kompromi, realistis, dan sebenarnya.

Trump, dalam pernyataan Kamis, menyatakan bahwa Iran sedang bernegasi, meskipun AS memiliki armada besar yang bisa mengancam. Retoriknya beralih pada kontrol program nuklir Iran, yang dianggap berpotensi menjadi bahan bom.

Ketentuan perundingan masih ambigu. AS mengkhawatirkan dukungan Teheran terhadap proksi dan rudal balistik, hal ini ditolak oleh Iran. Beberapa pihak Iran, sebutnya New York Times, mengungkapan bahwa AS siap mengelola isu regional selama dialog ini.

Institut Studi Perang AS memandang bahwa ketidakfleksibilan Iran mengurangi peluang solusi diplomatik. Secara keseluruhan, dialog ini bisa menjadi kesempatan untuk mengurangi ketegangan, meskipun hasilnya sangat tidak surut.

Perjalanan diplomasi antara dua negara ini memerlukan kompromi. Meski tekanan politik dan sejarah konflik lingkara, perundingan ini menunjukkan kemungkinan untuk memungkinkan dialog yang lebih terbuka. Pertemuan Muscat adalah ujian bagi kedua belah pihak untuk menunjukkan maturitas politik.

Meskipun tantangan besar, dialog ini bisa menjadi awal untuk membangun kerangka kerja baru. Keberhasilannya akan membuka jalan untuk mematikan siklus ketegangan yang telah berkuasa beberapa tahun. Semoga talak ini menjadi awalnya, bukan akhir, bagi perjuangan perdamaian.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan