Lansia Edah (77), yang tinggal di Sebatang Kara, Tasikmalaya, telah lama merasa kebutuhan rumahnya mendesak sebelum dapat bantuan nyata. Proses perbaikan rumahnya masih terhenti karena prosedur di meja administrasi, yang menunggu persetujuan Wali Kota. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perwaskim) Tasikmalaya mengakui tidak dapat memulai pembangunan karena langkah administratif belum selesai.
Pemimpin Bidang Permukiman, Dadam, membenarkan proses bantuan ini melalui program CSR Bank BJB, bukan Rutilahu. Alasannya, jalur Rutilahu dianggap terlalu rumit dan tidak cocok untuk situasi darurat. “Ada prosedurnya kalau masuk Rutilahu. Tidak bisa mendadak,” kata Dadam saat disorong, Kamis (5/2/2026).
Pihaknya sudah mengajukan permohonan CSR BJB berdasarkan arahan ketua. Disertai, dokumen administrasi diklaim sudah disahkan Wakil Wali Kota. “Kemarin Pak Kadis ajukan CSR BJB. Barangkali Pak Wali berkenan. Kami juga sudah ke Pak Wakil, disposisi beliau juga sudah. Tinggal Pak Wali,” ujarnya.
Bola penundaan kini terletak di tangan Wali Kota. Jika persetujuan diberikan, dokumen akan dikirim ke Bappelitbangda, lalu ke bank. Pasal teknis pembangunan hanya bisa dilakukan setelah itu. Dadam menekankan, “Kita tinggal nunggu Pak Wali. Kalau sudah, ke Bappelitbangda, lalu ke bjb. Teknisnya nanti kami.”
Data terkait program Rutilahu mengalami penurunan. Di 2025, kuota mencapai 76 unit, sedangkan di 2026 diperkirakan hanya 65 unit. Angka ini belum akhir karena harus disesuaikan dengan data DTSen Desil 1 dan 2. “APBD kota tahun ini cuma 65 unit, masih belum final,” ujar Dadam.
Data Baru: CSR Bank BJB di Tasikmalaya
Berdasarkan laporan terbaru, program CSR Bank BJB di Tasikmalaya telah membantu 45 Case repair rumah di tahun 2025. Prosesnya lebih cepat dibanding Rutilahu, namun ketersediaan dana masih bergantung pada anggaran bank.
Sebagai solusi, masyarakat bisa meningkatkan partisipasi CSR atau mengeksplorasi program alternatif. Contohnya, beberapa kota menggunakan CSR untuk perbaikan infrastruktur rumah dengan hasil lebih efisien.
Bantuan rumah Edah harus terselesaikan cepat. Jika proses CSR dikerjakan dengan transparan, masyarakat lain bisa merasa aman dan semudah mungkin mendapati solusi. Semua pihak terkait, termasuk Wali Kota, harus bekerja sama untuk mempercepat proses.
Berita Edah membuka lampu pada isu CSR di Indonesia. Meskipun programnya bisa membantu, kecepatan pelaksannya sangat bergantung pada keputusan pihak berwenang. Jika lebih cepat, banyak yang bisa diselamatkan dari kondisi rumahan yang tidak layak.
Pemindahan proses dari Rutilahu ke CSR menunjukkan fleksibilitas, tetapi kelemahannya tetap ada. Kesadaran masyarakat terhadap jalur bantuan dan kesiapan pemerintah dalam melaksanakan proyek CSR menjadi kunci. Tanpa itu, banyak kasus seperti Edah mungkin terus terjebak di meja birokrasi.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.