Wakapolri: Polri di Depan, Kasus Siswa NTT Tak Terulang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Polri menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap kematian bocah YBS (10) di Ngada, NTT. Dedi Prasetyo meminta jajaran Polri bergerak aktif memastikan program bantuan pemerintah sampai ke warga yang membutuhkan. “Peristiwa ini menjadi pengingat bagi negara harus hadir lebih cepat dan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Komjen Dedi di rapat di Mabes Polri, Jaksel, Kamis (5/2/2026).

Tegasnya menekankan pentingnya kerja sama Polri, pemerintah daerah, BPS, dan kementerian lain untuk memastikan dana APBN berasa manfaatnya. Tragedi di NTT tidak boleh terulang, dan Polri siap menjadi garis depan dalam pengawasan program sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Presiden Prabowo Subianto menyiapkan APBN 2026 untuk mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem melalui program seperti Keluarga Harapan (10 juta keluarga), Bantuan Sembako (18,3 juta keluarga), Beasiswa PIP, dan bantuan permakanan. Komjen Dedi menegaskan Polri memiliki potensi besar untuk menyelenggarakan ini melalui jaringan kelembagaan hingga tingkat desa.

Jajaran Polri diperintahkan memastikan kebijakan pemerintah benar-benar sampai ke lapangan. “Tugas Polri adalah menjadi jembatan kehadiran negara,” ujar dia. Semua program harus diinformasikan, diakses, dan diterima dengan mudah oleh rakyat.

Program-program yang akan dikawal Polri meliputi: Bantuan Anak Yatim Piatu, PBI JKN, Program Rumah Sejahtera Terpadu, subsidi listrik, dan Makan Bergizi Gratis untuk 82,9 juta penerima. Polri harus jaga implementasi nyata hingga ke level desa, bukan hanya laporan teoretis.

Setiap program ini adalah bukti kehadiran negara. Keberhasilan membutuhkan kerja sama yang saling mendukung. Polri harus menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, memastikan hak mereka diakui tanpa kesulitan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan