Hakim Sentil, Eks Stafsus Nadiem dengan IQ Tinggi Terlupakan di Sidang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hakim Sentil, mantan anggota Sunoto di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, bersinar pada tanggapan Fiona Handayani, saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook. Meski Fiona memiliki nilai IQ 147 yang sangat tinggi, ia sering lupa saat menjawab pertanyaan selama sidang. Hakim menilai IQ Fiona sangat jauh melebihi batas rata-rata, yang biasanya berkisar di kisaran 120-130. Namun, ia mengakui bahwa keunggulan kognitif tersebut tidak menjamin penuh kesadaran atau konsistensi dalam situasi tertentu.

Fiona, yang menjabat sebagai direktur SMP Kemendikbudristek 2020 dan direktur sekolah dasar pada Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, mengakui kesalahannya dengan santun. Hakim mengingatkan bahwa meski IQ tinggi, memori tetap bisa mengkhawatirkan jika tidak dilatih. Fiona sendiri mengakui bahwa IQ bukan faktor utama yang menjamin ketepatan dalam setiap konteks.

Pendapat hakim ini disertai dengan data finansial yang sangat spesifik. Perhitungan kerugian negara alcan pada kasus ini mencapai Rp 2,1 triliun, terdiri dari dua bagian utama. Pertama, perkebunan Rp 1,5 triliun yang berasal dari harga laptop Chromebook yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Kedua, pengadaan Chrome Device Management (CDM) yang tidak berfokus, dengan biaya Rp 621 miliar yang dianggap tidak memberikan manfaat bagi sistem pendidikan. Angka ini diambil dari laporan audit Badan Pengawasan Keuangan, yang menyatakan bahwa pengelolaan anggaran untuk program digitalisasi pendidikan di tahun 2019-2022 menjadi sumber kekurangan signifikan.

Sebagai contoh kasus, hal ini menunjukkan bagaimana kesalahan dalam pengadaan teknologi pemerintah dapat berujung pada kerugian skala besar. Meski teknologi seperti Chromebook dan CDM bisa mendukung efisiensi, implementasinya harus dipertimbangkan dengan teliti. Studi kasus ini juga mengajak pengetahuan lebih luas tentang bagaimana proyek digital yang tidak dioptimalkan bisa mempengaruhi anggaran negara.

Fiona sendiri mengakui bahwa IQ mahir dalam berbagai bidang, tetapi tidak menjamin kejelasan total dalam setiap situasi. Hal ini mengingatkan bahwa kecerdasan tidak selalu terukur hanya melalui angka. Bagaimana demikian, penting untuk mempertimbangkan aspek lain seperti ketelitian, konsistensi, dan ketangguhan dalam menegakkan keadilan.

Dalam konteks serba terdepan, pengadaan teknologi untuk pendidikan harus dipertimbangkan bukan hanya dari sudut biaya, tetapi juga dampak jangka panjang. Jika tidak diatur dengan baik, proyek seperti ini bisa menjadi sumber kerugian bagi negara. Ini menjadi pengingat bahwa ketelitian dalam pengambilan keputusan, terutama dalam bidang pemerintahan, sangat krusial.

Kesalahan seperti ini tidak hanya menghabiskan dana negara, tetapi juga mengurangi kualitas layanan pendidikan yang bisa diberikan kepada masyarakat. Jadi, penting untuk selalu mengamati proses pengadaan proyek pemerintah dengan penuh ketelitian. Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik dalam persidangan, pengelolaan anggaran, maupun pengadaan teknologi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan