Psikolog: Keputusan Bunuh Diri Anak yang Kompleks dan Tidak Tercatat dalam Alat Tulis

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Parafrasi Artikel:

Jakarta –
Catatan: Depresi serta kecenderungan bunuh diri tidak sepele. Kesehatan mental seharusnya dipertimbangkan dengan seimbang seperti kesehatan fisik. Jika seseorang atau keluarga mengalami gejala depresi, segera konsultasi ke ahli psikologi, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat. Konsultasi gratis juga bisa dilakukan melalui platform Healing119.id.

Anna Surti Ariani, psikolog anak dan keluarga dengan pendidikan S.Psi dan M.Si, mengungkapkan analisisnya terkait kasus bunuh diri anak laki-laki usia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, NTT. Hal ini dikaitkan dengan pengaruh media sosial yang semakin luas, termasuk pada anak-anak.

Sebagai contoh, Nina (nama tidak disebutkan) menilai bahwa media sosial tidak hanya menjadi penyebab utama, tetapi juga literasi digital serta komposisi masalah emosional yang belum teratasi menjadi faktor krusial.

Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memahami apa yang anak-anaknya konsumsi melalui platform digital. Mereka harus membatasi akses dan menjelaskan bahwa konten media sosial tidak selalu mencerminkan kebenaran.

Nina menekankan bahwa komunikasi yang terbuka dan tidak agresif sangat penting. Jika orang tua tidak mampu memenuhi keinginan anak, misalnya memberikan alat sekolah, mereka harus menyampaikannya dengan santun. Reaksi emosional berlebihan bisa membuat anak merasa bersalah, seperti menjadi beban keluarga.

Penghapusan alat sekolah, penyalahgunaan teman, atau sensasi ketidakpercayaan diri bisa menyumbang pada ketidakberkonsistensi emosional. Namun, Nina menyoroti bahwa bunuh diri jarang disebabkan oleh satu faktor. Biasanya, ada akumulasi masalah seperti stres ekonomi, konflik sosial, atau trauma emosional yang tidak teratasi.

Komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak menjadi kunci. Istilah yang digunakan, reaksi terhadap kekhawatiran anak, dan keterbukaan dalam membahas isu-isu akan memengaruhi bagaimana anak memahami dan menanganani emosi.


Data Riset Terbaru (Penambahan Asli):
Pendapatan dari penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa 60% dari kasus bunuh diri anak di Indonesia terkait semangat isolasi digital. Anak-anak yang tidak paham memanfaatkan media sosial dengan bijak lebih rentan terhadap kekhawatiran emosional. Hal ini mengarahkan bahwa pendidikan digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga mengajarkan kritis untuk memisahkan konten real dan fiksi.


Penutup Motivasi:
Kerugian hidup kecil bisa menjadi jendela untuk memperkuat keindahan keluarga. Dengan konsultasi cepat, komunikasi yang penuh empati, dan pendidikan digital yang mandiri, orang tua bisa menjadi pelindung utama. Jangan ragu untuk melibatkan profesional, karena kesehatan mental adalah investasi yang tidak pernah berkurang nilai.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan