Siswa SMP Lempar Molotov Menemukan Kesuksesan Berikutnya di Sekolah Kalbar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kabar Terkini Seputar Serangan Bomb Molotov di Sekolah Kalbar

Jakarta — Sekolah negeri 3 di Sungai Raya, Kalimantan Barat, mengalami serangan bom molotov oleh siswa yang bersangkutan. Insiden terjadi saat jam istirahat, memicu perisai api dan kekhawatiran warga. Ketua Kapolda Kubu Raya, AKP Hariyanto, menyatakan bahwa pelaku sudah dipaksa untuk mengamankan diri dan menjalani pengawasan lebih lanjut. Tidak ada korban jiwa terlambat, tetapi keadaan ini memicu perasaan ketakutan di lingkungan sekolah.

Pemilik bom molotov diduga mengalami tekanan psikologis akibat masalah keluarga. Kapolda Kalbar, Irjen Pipit Rismanto, menjelaskan bahwa ketimpangan keluarga menjadi faktor utamanya. Sebelum insiden, siswa tersebut tetap normal dalam aktivitas sekolah, tetapi kondisi keluarga yang berubah memicu perilaku ekstrem. Laporan dari aparat menunjukkan kakek dan ayah pelaku sedang sakit, sehingga mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak.

Densus 88 Antiteror Polri mengungkap pengamatan bahwa pelaku terhubung dengan grup True Crime Community (TCC). Mereka diduga terinspirasi oleh penembakan massal di luar negeri, seperti Stephen Paddock (Las Vegas 2017) atau Adam Peter Lanza (Sandy Hook 2012). Di tas pelaku ditemukan nama-nama tersebut beserta tagar TCC. Selain itu, pelaku juga ditemukan senjata seperti petasan, paku, dan pisau.

Polda Kalimantan Barat menegakkan tindakan penyelidikan mendalam untuk memahami akar masalah. Fokusnya tidak hanya pada aspek hukum, tetapi juga pada pembinaan psikologis untuk mencegah terulang. Kapolda menggarisbawahi pentingnya dukungan keluarga dan pendidikan anti-koerasi bagi anak-anak.

Analisis Akhir
Kesadaran dini dan intervensi cepat sangat vital dalam mencegah kekerasan yang tergumpal. Lingkungan keluarga harus lebih bersikap terlibat dalam pengawasan psikologis anak, terutama saat terjadi perubahan besar dalam dinamika keluarga. Pendidikan anti-terrorisme dan kebijaksanaan digital perlu diintegrasikan dalam kurikulum sekolah untuk menghindari terpapar ideologi ekstrem. Semua pihak—rimu, keluarga, dan masyarakat—mempunyai peran dalam menciptakan lingkungan yang aman untuk generasi muda.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan