Karyawan 26 Tahun di Korsel Meninggal, Diduga Overwork hingga 80 Jam per Pekan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Karyawan 26 Tahun di Korsel Meninggal, Diduga Kerusakan Akut dari Kerja Berlebihan

Sekitar 26 tahun, seorang pekerja di cabang toko roti Korea Selatan yang sangat dikenal meninggal setelah bekerja sekitar 80 jam dalam satu minggu. Kematian ini membuat banyak orang berpendapat bahwa kondisi kerja berlebihan menjadi penyebab utama.

Partai progresif yang melacak calon politik menyatakan bahwa perusahaan tempat kerja tersebut tidak memiliki tanggung jawab secara langsung. Data menunjukkan karyawan tersebut meninggal pada Juli 2025, setelah bekerja 58-80 jam dalam satu minggu.

Pemergahan dari organisasi yang berhubungan dengan keadilan mencatat bahwa karyawan tersebut telah kerja selama 14 bulan sebelum meninggal. Sebelum kematian, ia telah dipindahkan beberapa kali dari lokasi seperti Gangnam ke Suwon, Provinsi Gyeonggi, hingga Incheon, setiap kali dengan kontrak baru.

Keluarga yang menyadari tragedi ini telah mengajukan permohonan kompensasi kecelakaan kerja. Namun, pihak pengelola tempat kerja menolak memberikan dokumen terkait jadwal kerja karyawan.

“Perusahaan tetap berpendapat bahwa rekaman jam kerja mereka berbeda dengan klaim keluarga,” kata saksi dari Korean Herald. Keluarga tersebut mengajukan permohanan pada 22 Oktober 2025.

Pemeriksaan medis menunjukkan kemungkinan kematian ini disebabkan oleh kondisi kerja berlebihan yang terus berlangsung dan intens.

WHO dan ILO mengungkap data berbahaya: kerjamur lebih dari 55 jam dalam seminggu dapat meningkatkan risiko stroke hingga 35% dan penyakit jantung 17%. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan bahwa tidak ada pekerjaan yang bebas risiko kesehatan serius seperti ini.

Kebiasaan kerja berlebihan tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga berdampak fatal bagi individu. Kekerasan fisik dan mental menjadi ancaman yang tidak terkira.

Pemuda yang meninggal ini menjadi pemicu bagi banyak orang untuk memikir kembali tentang batas kerja yang sehat. Keterbatasan waktu yang diriset harus seimbang dengan kesejahteraan fisik dan mental.

Kasus ini menunjukkan bahwa perusahaan harus lebih transparan dalam melaporkan kondisi kerja. Keluarga berharap dukungan pemerintah untuk memperkuat regulasi terhadap overwork.

Bagi pekerja, kesadaran akan risiko kelebihan jam kerja menjadi keharusan. Prioritas utama adalah kesehatan, bukan hanya produktivitas.

Kesadaran publik tentang gejala overwork perlu ditingkatkan. Hal ini bisa menjadi langkah awal untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Dampak kematian ini tidak hanya membiarkan keluarga berduka, tetapi juga menjadi ujian bagi masyarakat. Bagaimana cara membangun lingkungan kerja yang lebih manusiawi?

Setiap individu memiliki peran dalam meminta batas kerja yang adil. Kesehatan bukanlah keuntungan, tetapi hak dasar.

Pendapat ini mengingatkan kita bahwa kesejahteraan harus menjadi prioritas utama. Kerja berlebihan tidak boleh menjadi jalan menuju kematian.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan