Mantan Atlet PON 2024 dari Garut Persembahyang Melawan Penyakit Sendiri

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Siti Nur Rahayu, mantan atlet PON 2024 dari Garut, sedang berjuang melawan penyakit kritis yang mengancam kesehatan fisiknya. Kasus ini受到关注 karena setelah lomba berakhir, tidak lagi ada sistem yang mendukung pemeliharaan atlet.

Dulu, Siti telah membantu tim Jawa Barat dalam ajang PON 2024 di Sumatera Utara dan Aceh. Sekarang, kondisi kesehatannya memaksa untuk تنها istirahat di rumah di Tarogong, Garut.

Perwujudan penyakit pecah usus sejak dua bulan terakhir membuat perawatan menjadi prioritas utama. Keluarga di sini tidak memiliki BPJS Kesehatan, sehingga biaya medis menjadi beban besar.

“Dulu fokus adalah latihan dan pertarungan yang membawa keberagaman daerah. Sekarang, saat sakit, kami harus berjuang sendiri untuk mengatasi ini,” kata Siti, Rabu (4/2/2026).

Ibu kandung Siti, Yeni Nurhayati, menyoroti kekhawatiran akan biaya operasi yang belum bisa dipenuhi. “Anak saya butuh intervensi medis segera. Kami hanya harap ada bantuan dari pihak berwajib,” ujarnya.

Data terkini menunjukkan bahwa banyak atlet tidak memiliki proteksi kesehatan pasca-lomba. Ini memicu risiko kesehatan jangka panjang jika tidak diporong. Studi tahun 2025 menunjukkan 60% atlet di Indonesia tidak memiliki asuransi kesehatan yang memadai.

Banyak kasus seperti ini mengikuti pola bahwa pendukung infrastruktur olahraga sering lebih fokus pada kompetisi daripada perlindungan pasca-even. Ini membuat atlet terpaku dalam situasi kritis tanpa dukungan minimum.

Lembaga seharusnya memperkuat kebijakan perlindungan atlet, termasuk akses BPJS Kesehatan. Investasi dalam kesehatan atlet bukan hanya etika, tapi juga investasi dalam keberlanjutan olahraga nasional.

Siti berharap pemberdayaan untuk dapat fokus pada perawatan tanpa takut akan beban finansial. Semua pihak berwajib perlu menyelenggarakan kolaborasi untuk menciptakan sistem yang lebih adil.

Saya meminta kita semua untuk memperhatikan situasi ini. Kesehatan atlet adalah bagian dari kesejahteraan umum. Dengan dukungan bersama, mungkin bisa mengatasi masalah seperti ini sebelum lebih beres.

Kita harus mengingat bahwa setiap atlet punya momen untuk merahasiah. Jangan biarkan kondisi fisik menjadi penghalang untuk menciptakan dampak positif. Ada banyak yang siap membantu, jika hanya diakui.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan