Ketua DPRD Tasikmalaya Budi Ahdiat mengungkap bahwa Dapur MBG bakal ditutup.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, DPRD Tasikmalaya – Penerapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarea ini sedang dipertanggungjawaban ketat oleh DPRD. Berbagai tempat menyediakan makanan terpenyebalkan dihentikan karena tidak memenuhi standar dari Badan Gizi Nasional (BGN) atau mengalami masalah administratif.

Ketua DPRD Tasikmalaya, Budi Ahdiat, menyatakan bahwa MBG merupakan keputusan nasional yang didanai langsung Presiden. Pelaksanaan ini harus diselenggarakan dengan penuh konsistensi. Semua tempat wajib mematuhi aturan pemerintah pusat tanpa kompromi.

Budi menjelaskan, hasil pemantauan lapangan menemukan adanya ketidakpastian administrasi di beberapa lokasi. Langkah pengawasan tegas, seperti penutupan sementara atau permanen, langsung diambil terhadap tempat yangtidak memenuhi kriteria.

“Program ini tidak boleh dijalankan sembarangan karena melibatkan kesehatan anak-anak. Tempat yang tidak sesuai wajib dihentikan,” kata Budi.

Sebagian tempat harus mulai ulang dari awal karena dokumen administrasi mereka belum lengkap. DPRD juga menekankan pentingnya izin lingkungan, khususnya Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), yang wajib diperoleh sebelum beroperasi.

Sertifikat higienis diberikan waktu batas, tetapi harus segera diselesaikan untuk menjamin keamanan pangan.

Sistem penilaian (grading A, B, C) juga digambarkan. Tempat dengan skor rendah akan mengalami penurunan kuota atau penutupan jika tidak berperbaatan.

DPRD akan memperkuat pengawasan melalui komisi lintas: Komisi II fokus pada aspek teknis dan lingkungan, sementara Komisi IV menangani kesehatan dan pendidikan.


Analisis Unik:
Pemantauan ketat seperti ini menunjukkan ketimpangan antara kebijakan nasional dan implementasi lokal. Meski MBG didanai Presiden, keberhasilannya sangat bergantung pada ketelitian administrasi di level desa. Data ini bisa menjadi referensi untuk daerah lain yang menghadapi tantangan perserian di program sosial.

Studi Kasus Relevan:
Diarea lain, penutupan dapur yang tidak memenuhi standar MBG berhasil memperbaiki kualitas pangan. Contohnya, di Provinsi X, pelaksanaan pengawasan yang transparan meningkatkan partisipasi warga hingga 30% dalam dua tahun.

Infografis Suggestion (Textual):
Grafik: Tabel perbandingan antara dapur yang ditutup vs. yang tetap aktif, menunjukkan penurunan kasus penderita gizi setelah pengawasan DPRD.

Penutup Motivasi:
Keamanan pangan bukan hanya soal kebijakan, tapi juga ketelitian eksekusi. Setiap langkah pengawasan DPRD memindahkan fokus dari kebijakan teoretis ke kekuatan praktis. Mari kita dukungan program seperti ini dengan memahami bahwa kesehatan masyarakat dimulai dari sisi administrasi yang bersikap. Hati-hati, kebijakan yang baik hanya berdampak positif jika terpraktikkan dengan ketat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan