Puan Minta Evaluasi Pendidikan Setelah Kasus Siswa SD di NTT

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Puan Maharani mengungkapkan ketentuan kasus siswa sekolah dasar (SD) di Kab. Ngada, NTT, yang berinsain YBR (10) meninggal dunia karena tidak bisa membeli buku dan alat tulis. Pemimpin DPR RI menekankan bahwa peristiwa ini menjadi pengalaman sadir bagi masyarakat dan perlu menjadi bahan pelajaran bagi pemerintah.

Siswa tersebut tinggal dengan nenek berusia 80 tahun di pondok kecil. Ibu YBR, yang bekerja sebagai petani, tidak mampu menyediakan kebutuhan pendidikan seharga Rp 10 ribu. Kondisi ekonomi yang sangat terbatas memaksa anak tidak bisa belajar dengan alat dasar. Puan mengklaim bahwa program pendidikan pemerintah belum cukup hanya dengan memberikan sekolah gratis, karena kebutuhan pelengkap seperti alat tulis tetap menjadi tantangan bagi keluarga kurang mampu.

“Program-beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan seperti ini,” kata Puan. Ia juga menyoroti pentingnya kesehatan mental anak, karena kesesuaian psikologis dapat memengaruhi keputusan mereka. Kasus YBR menjadi contoh bagaimana kekurangan kebutuhan dasar bisa memicu kekhawatiran psikologi, sehingga perhatian terhadap kesehatan mental harus dijadikan prioritas.

Puan meminta pemerintah untuk memperluas program bantuan sosial ke daerah terpencil seperti Ngada. Ia berharap kebijakan tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga mengatasi akar masalah kemiskinan. “Jangan sampai ada nyawa generasi muda yang hilang lagi karena merasa tertekan karena tidak memiliki alat belajar,” tegasnya.

Sebagai solusi, Puan menyoroti penguatan ketertiban antara pembelajaran dan kesehatan psikologi. Sekolah harus memahami latar belakang siswanya, baik secara ekonomi maupun emosional. Selain itu, kebijakan pemerintah harus lebih inklusif, memastikan setiap anak bisa mengakses kebutuhan pendidikan dasar.

Puan berharap peristiwa ini menjadi pengalaman belajar bagi semua pihak. Pemerintah perlu merancang sistem yang lebih ramah anak, mampu menjaga kesehatan fisik dan mental mereka secara menyeluruh. Untuk masyarakat, kesadaran sosial harus lebih tinggi agar bisa mendukung keluarga terpencil.

Bagi masyarakat, peristiwa ini adalah panggilan untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil. Saat ini, kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis masih menjadi penghalang bagi anak-anak. Jika tidak diatasi, risiko kehilangan generasi muda akan semakin tinggi. Semua pihak harus bersaing untuk memastikan setiap anak bisa belajar dengan nyaman dan aman.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan