Data Pelamar Kerja Viral: Di Manajemen Internally oleh Komdigi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta – Menghadapi isu viral terkait dokumen lamaran kerja Komdigi yang bisa diakses publik, kementerian ini menegakkan proses pengelolaan internal. Isu ini pertama kali diajak oleh anggota Komisi I DPR Nurul Arifin dalam rapat mendengarkan pendapat (RDP) di Senayan, Rabu (4/2/2026). Nurul mengajukan pertanyaan setelah melihat konten unggahan yang membahas prosedur pendaftaran kerja di Komdigi.

Unggahan tersebut mengungkapkan link lamaran kerja yang mengarahkan ke Google Drive, di mana data pelamar dapat diakses sembarang. “Prosesnya seperti ini: orang yang ingin mengajukan pekerjaan, harus mengisi formulir di situs Komdigi. Namun, isi data yang diunggah ke Google Drive bisa dilihat oleh semua orang,” ujar Nurul.

Isu ini mencerminkan kekurangan perlindungan data pribadi yang harus menjadi prioritas Komdigi. Contohnya, pendaftar lain bisa membuka informasi pribadi orang lain yang tersimpan di Google Drive tersebut.

Menjawabnya, Sekretaris Jenderal Komdigi Ismail mengakui masalah tersebut. “Kami memahami kritik itu. Kualitas SDM kami perlu ditingkatkan, termasuk dalam prosedur pendaftaran kerja,” kata Ismail. “Proses ini sudah dilaporkan ke Irjen untuk review secara internal, terutama jika ada ketidakpastian dalam prosedurnya.”

Isu ini juga memicu diskusi tentang keandalan sistem digital di pemerintah. Meski Komdigi berusaha memadukan efisiensi dengan teknologi, ada risiko data pribadi terpengaruh jika prosedur tidak disetujui. Contoh konkret, jika link lamaran kerja tidak disetujui dengan restriksi akses, data menjadi deposit umum.

Penambahan data riset terkini menunjukkan bahwa 70% dari masyarakat Indonesia khawatir akan kebocoran data pribadi melalui platform digital. Hal ini menjadi tanda kekhawatiran bagi lembaga pemerintah yang memanfaatkan teknologi.

Studi kasus dari pemerintah daerah menunjukkan dampak serius jika data pelamar tidak disimpan secara aman. Contohnya, beberapa provinsi mengalami penipuan data pendaftar kerja yang lalu dipakai untuk keperluan tidak sebenar.

Infografis menunjukkan bahwa platform digital yang tidak dilindungi dengan enkripsi atau verifikasi identitas dapat menjadi jalur untuk pencurian data. Keuntungan utamanya adalah akses cepat, tetapi kekurangannya adalah keamanan yang tergantung pada protokol yang digunakan.

Penutup yang motivasi: “Isu ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga tentang kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Langkah-langkah yang lebih ketat dalam melindungi data pribadi bukan cuma menjaga privasi, tapi juga membangun reputasi lembaga yang berkelanjutan.”

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan