Proyek Tenaga Surya India Mengkhawatirkan Penggembala di Himalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

IndonesiaIndia menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya skala besar di Ladakh, kawasan tinggi yang menjadi rumah kambing Pashmina. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik negara dengan energi rendah karbon. Dataran Changthang di Ladakh, yang dikelola India, menjadi lokasi ideal karena potensinya sebagai habitat kambing yang menghasilkan wol premium. Namun, ini juga menjadi sumber kehilangan kekayaan tradisional bagi para penggembala yang bergenerasi panjang di daerah ini.

Wilayah ini bukan hanya penting untuk hewan, tetapi juga untuk kehidupan masyarakat yang berrelasi erat dengan padang rumput. Seorang penggembala, Tsering Stobdan, mengutakkan kekhawatiran tentang dampak pembangkit surya terhadap tanah yang telah dipelihara selama berabad-abad. “Sangat sulit hidup di sini,” kata Tsering. “Jika tanah ini hilang, generasi lain akan terpahat.”

Tujuan India dengan proyek ini adalah meningkatkan kapasitas energi surya hingga 280 gigawatt hingga 2030, sebagai langkah menuju target 500 gigawatt energi non fosil. Proyek di Ladakh, yang melibatkan area 250 km², diharapkan menjadi solusi strategis. Namun, tantangan besarnya terletak pada pengangkutan energi melalui Koridor Energi Hijau yang panjang 713 km, dengan biaya estimi hingga US$2,28 miliar. Konstruksi ini membutuhkan teknologi khusus untuk menahan suhu ekstrem dan lingkungan hård.

Risiko bagi masyarakat lokal menjadi topik kontroversial. Laporan internasional menunjukkan proyek energi skala besar sering mengabaikan hak masyarakat asli. Di Ladakh, pemerintah menyatakan ini dilakukan dengan konsultasi, tetapi para penggembala tetap skeptis. Mereka takut akan dipindahkan dari tanah tradisional tanpa kompensasi, meski pemerintah menyatakan proyek kecil ini akan mengembangkan daerah.

Tentangan teknis dan sosial masih dominan. Meski panel surya dirancang agar hewan bisa merumput di bawahnya, apakah ini akan berdampak jangka panjang terhadap ekosistem belum jelas. Penelitian dari Universitas Ladakh akan menguji apakah platform surya tinggi dapat menjaga rumput. Namun, para penggembala lokal masih mempertanyakan: “Bagaimana kami bisa hidup jika terbatas ke bawah panel surya?”

Penyesuaian dengan realita perlu diteliti lebih dalam. Sebaliknya, pendekatan yang lebih inklusif dengan masyarakat lokal mungkin menjadi solusi yang lebih berkelanjutan. Pembangunan energi Surabaya tidak boleh mengabaikan kepentingan orang yang telah hidup di sana dari dulu.

Dengan ini, proyek ini bisa menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi bisa berkongsi dengan kebutuhan sosial, bukan bertentangan. Kuncinya adalah transparansi, konsultasi mendalam, dan keinginan untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan ketahanan budaya serta alam.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan